Selasa, 12 Oktober 2010

REVIEW The Hurt Locker ( 2009) : UNEDITED VERSION

Menampilkan Sisi Lain dari Maskulinitas


Film ini sebenarnya telah dirilis pada 2008 yang lalu dan diputar di Venice International Film Festival 2008. Akan tetapi, baru pada 2009 dirilis secara serentak di AS. Film peraih 6 piala Oscar,termasuk film dan sutradara terbaik sempat membuat industry perfilman Hollywood tercengang. Film indie ini menjadi film dengan pemasukan terendah (hanya 12 juta dollar AS) yang memenangkan film terbaik dalam ajang Oscar. Tidak hanya itu, film ini ternyata disutradarai oleh seorang perempuan, sebuah tema yang sangat jarang disentuh oleh wanita. Sentuhan Bygelow sebagai soerang wanita sangat terasa sekali ketika menonton film ini terutama kemampuannya dalam menampilkan emosi yang sangat manusiawi dari tokoh James dan kawan-kawannya. Kathryn Bigelow mengambil lokasi di Jordan dan Kanada dalam memfilmkan kisah ini. Ini didasarkan pada tidak mungkinnya mengambil lokasi di Baghdad akibat factor keamanan. Kisah dari film ini mengambil focus kisah para penjinak bom di Irak, US ARMY Explosive Ordnance Disposal (EOD). Ceritanya sendiri ditulis oleh Mark Boal yang pernah menjadi penulis lepas atau jurnalis pada tahun 2004 bersama tim penjinak bom Amerika di Iraq.

Synopsis

Cerita bermula ketika Sersan William James (Jeremy Renner) ditugaskan sebagai pimpinan bom squad di Irak mengggantikan sersan sebelumnya yang tewas dalam sebuah operasi penjinakkan. Kepribadiannya James yang nyentrik dan slengean dalam menghadapi marabahaya jelas saja membuat dua anggota timnya, JT Sanborn (Anthony Mackie) dan Owen Eldridge (Brian Geraghty) khawatir. James membawa mereka bermain dengan maut sehingga dalam beberapa kali usaha menjinakkan bom berlangsung penuh kekhawatiran. Pengalaman James yang sudah menjinakkan bom ratusan kali membuat ia “tenang” mengemban tugas ini sehingga berhasil menyelamatkan nyawa ribuan orang. Hal ini, tetap saja ini membuat Sanborn kesal dan bahkan ingin mencelakakan James. Namun, semuanya berubah ketika mereka terjebak baku tembak di padang gurun. Rasa kesetiakawanan dan tanggung jawab James terlihat di situ. Mereka sadar dengan figure James yang seperti itu membuat tim mereka solid. Sampai kemudian, tiba saatnya mereka berpisah karena masa dinas sudah selesai. James kembali ke AS dan berperan sebagai seorang suami dan ayah dari seorang putra. Tetapi, ia mengalami pergolakan batin setelah menanggalkan seragam dinasnya. Rasa candu akan medan perang muncul melihat nasib perwira AS penjinak bom di Irak lewat TV? Akankah James kembali ke medan perang?

Review

Jangan harapkan menonton The Hurt Locker kita bakal disuguhkan perang epic berskala besar dengan sinematografi yang megah, penuh adegan baku-tembak dan juga dilengkapi dengan visual effect dan tata suara yang membahana . The Hurt Locker memang bebeda dengan film bertema serupa. Bukan berarti film ini kurang dalam unsur thriller seperti layaknya film perang atau sinematrografi yang tenang dan biasa saja. The Hurt Locker muncul sebagai film perang yang sangat personal (dituturkan lewat 3 karakter utama: James, Sanborn, Eldridge) dan apolitis (tidak melibatkan sudut pandang kebijakan dari pemerintah AS). Inilah yang membuat Hurt Locker serasa begitu hidup karena melibatkan begitu banyak emosi dan psikologi para penjinak bom yang ditugaskan di Irak. Betapa sebuah perang bisa menciptakan kecanduan akibat frustasi yang belebihan. Dan perasaan ini benar-benar terasa bekecamuk ketika kita menonton film ini. Lewat emosi dan perang batin yang ditampilkan oleh ketiga tokoh utama diatas, kita sebagai human being bisa merasakan betapa menderitanya seorang prajurit secara mental ketika bertugas di medan perang. Dan bagi para pria, film ini tampak menampilkan emosi pria sangat pas, yaitu menampilkan sisi maskulin pria yang bercampur baur dengan pengalaman traumatic.

Menampilkan sisi lain dari maskulin

Kita acapkali mendengar kalau wanita yang menjalankan dunia ini, maka perang tidak akan terjadi. Dalam film ini, karakter seorang wanita sangat jarang ditampilkan. Kalaupun mucul, itu hanya sekilas saja, seperti karakter istrinya James. Itupun hanya ditampilkan amat singkat. Selebihnya scene demi scene diisi dengan karakter pria. Sekedar informasi saja, hanya 4 % wanita yang berada dalam squad penjinak bom di Irak dan Afganishtan.

Dunia militer yang merupakan symbol kuat maskulin, ternyata juga memiliki sisi lain yang patut diungkap. Hal ini tereksplor mendalam dalam film ini. Kita bisa lihat, bagaimana seorang James yang sudah terbiasa menjinakkan bom, ternyata sangat rapuh ketika melihat penderitaan seorang bocah Irak yang menjadi korban bom dan seorang pria korban bom bunuh diri. Apalagi ketika ia mengingat kembali kisahnya dengan sang isri dan anak yang jauh di Amerika sana. Merokok, minum-minuman keras, dvd porno, prostitusi adalah hal yang wajar ketika para prajurit ditempatkan di medan perang. Naluri kejantanan itu muncul alamiah dalam kondisi seperti itu. Tak ada hiburan. Hanya hal-hal diatas yang tersedia dalam mengobati kegelisahan dan trauma yang dialami para prajurit. Selain itu karakter Sanborn, seorang pria kulit hitam yang tampak tangguh dan sangat jantan akhirnya menangis juga meratapai nasibnya ditempatkan di medan perang. Hal ini juga berlaku sama bagi Aldridge, yang sangat traumatic sehingga konsultasi dari seorang psikolog masih belum mempan mengobati traumatiknya. Bahkan dalam film ini, kondisi mereka yang selalu dalam tekanan dan selalu diambang maut ditumpahkan dalam sebuah adegan perkelahian setelah pesta minuman keras diantara mereka. Hal ini dilakukan sebagai upaya melepaskan bebas dan stress dalam operasi mereka di Irak yang telah berlangsung bertahun-tahun.

Ketika seorang pria dipaksa untuk melindungi negaranya melebihi kemapuan dan ketakutannya akibat yang ditimbulkan ternyata memiliki efek domino bagi kondisi kejiwaan para prajuritnya. Ada yang menjadi candu dan ada juga yang menderita gangguan jiwa. Dan The Hurt Locker jelas memberikan dan memaparkan sisi lain dari sisi maskulinitas pria yang ditempatkan di medan perang, bahwasanya pria juga ingin dilindungi. Mungkin factor, bigelow yang seorang wanita turut mempengaruhi hal ini.


*dimuat dalam majalah Stair HI UNPAD, edisi "pria"

Tidak ada komentar: