Selasa, 12 Oktober 2010

REAKSI PERFILMAN HOLLYWOOD MENANGGAPI TRAGEDI 11 SEPTEMBER 2001

REAKSI PERFILMAN HOLLYWOOD MENANGGAPI TRAGEDI 11 SEPTEMBER 2001


Film merupakan sebuah bentuk apresiasi seni terhadap proses kehidupan mansuaia. Ide-ide bermunculan baik dari sumber luar maupun dari pemikiran sendiri (kendati dipengaruhi oleh sumber bacaan tertentu). Apa yang sedang berlangsung secara otomatis akan memberikan kontribusi bagi pemikiran dn karya kita. Begitu juga dengan perfilam Hollywood. Perfilman Hollywood dikenal lihai dalam mencirikan/menandakan suatu kelompok tertentu yang begitu melekat di pikiran semua orang sehinggga mampu menyelami ke titik bawah alam sadar kita tanpa kita sadar (unscuncious). Kita akan selalu diingatkan dan disuguhi akan hal yang sama tanpa terdasari kita sendiri juga telah masuk ke dalam konstruksi tersebut. Berhubungan tragedi 11 September seakan menjadi timeline sejarah yang monumental terutama dalam studi HI, saya akan mencoba melihat kontribusi peristiwa diatas bagi kelangsungan “ide” perfilman Hollywood. Tidak hanya terkait dengan isu terorisme saja melainkan juga cara pandang Hollywood terhadap negara-negara lain.

Melihat bagaimana perkembangan perfilman Hollywood sepanjang dekade 2000-an, terutama setelah tragedy 11 September, kita bisa lihat tema fantasi dan science-fiction, terutama dari komik superhero menjadi acuan utama sehingga decade 2000-an diidentikkan dengan film komik superhero dan fantasi. Sebut saja, Spiderman, The Daredevil (2003), Electra (2005), remake Superman, Batman, Green Lantern (rilis 2011), the Hulk, The Avegers (2011), Watchmen (2009), Iron Man (2008 dan 2010) Beberapa berasumsi menyatakan bahwa hal ini diakibatkan oleh aksi terorisme 11 September. Memang ide film dari komik sudah diangkat sejak decade 80-an, tetapi kuantitasnya tidak sedahsyat pada decade 2000-an. Entah karena alasan semakin minimnya scenario dan ide yang berlian, tetapi produksi film berjenis ini semakin membanjiri pasaran AS dan dunia sejak tragedi 11 September. Tentu ini menimbulkan pertanyaan menarik bagi siapaun menyimaknya.

Rakyat Amerika tidak ingin terus mengingat rangkaian yang mengerikan dalam sejarah mereka, maka dari itu para pembuat film ramai-ramai mencari komik superhero dan menggali lebih dalam substansi dari komik itu sendiri. Amerika tidak ingin diingat sebagai bangsa yang gagal dan kalah dalam perang. Mereka ingin selalu menjadi pemenang dan penyelamat dunia (yang tergambar jelas dalm komik superhero tersbut). Amerika harus menjadi pahlawan dan polisi dunia.

Sedangkan film fantasi layaknya trilogy The Lord of The Ring seakan membuai imajinasi penonton akan harapan yang optmis ketimbang berlarut-larut mengingat tragedy 11 September. Sudah tak terhitung betapa banyaknya film mahal dan kaya akan visual-effect canggih yang menunjukkan betapa kuatnya dan hegemoninya AS dalam perihal kecanggihan teknologi melebihi bangsa manapun saat ini. Ini semakin diperkuat ketika gelombang 3D semakin mencuat sejak Avatar yang fenomenal tersebut. Hampir semua film action, superhero, animasi saat ini memakai teknologi 3d. Tak heran film-film mahal yang menjual cerita sukses AS dalam teknologi menjadi isu penting dan ditonjolkan demi mengangkat kembali citra AS yang sempat terpuruk sebagai polisi dunia sejak tragedi 11 September. Dan isu nuklir, senjata kimia berbahaya, terorisme menjadi isu jualan utama film bergenre action ini.

Terkait dengan isu terorisme, tak bisa dilepaskan dengan invasi AS ke Iraq sejak 2003, sebagai tanggapan AS atas aksi terorisme global. Sejak saaat itu, film-film yang mengangkat backdrop Perang Iraq bermuculan, baik film bisokop maupun documenter. Tak heran berbagai macam cerita bermunculan menganagkat isu ini. Film-film yang menampilkan pesimisme Amerika di Iraq hamper semua tidak mendapat simpati para penonton, seperti Jarhead (2005) dan In the Valley ol Ellah (2007), Rendition.(2007), Brothers (2009), The Messengers (2009) Adapun kemenangan The Hurt Locker dalam Oscar, yang dipuji krtikus, lebih optimis dalam memandang Iraq kendati tetap menyorot rapuhnya mental pasukan AS di Iraq (juga terkait dengan rencana penarikan pasukan AS dari Iraq secepatnya) sehingga membuat The Hurt Lockjer special dibandingkan film sejenis ketika dikaitkan dengan isu politis.

Konstruk dalam film Hollywood terhadap negara-negara muslim sejak isu 11 Septemebr menjadi topic yang hangat dibicarakan. Lihat saja film Rendition (2007), the Flightplan (2005), Crash (2005), A Mighty Heart (2007), Babel (2006), the Kite Runner (2007), Charlie Wilson Wars (2007) dll menampilkan citra masyarakat dan negara islam/mayoritas islam identik dengan senjata, kekerasan, aksi pembunuhan serta kemiskinan. Referensi yang selalu dipakai adalah Al-Qaeda dan Taliban untuk mengeneralisasi umat muslim di seluruh dunia. Sedikit sekali referensi yang digunakan untuk menyibak motif mengapa mucul pemberontakan di negara muslim, yang selalu diidentikkan dengan terorisme sehingga dapat dipastikan cara pandang negara non-muslim terhadap muslim juga berubah dan cenderung menimbulkan ketakutan.

Kewaspadaan AS terhadap emerging power lainnya terutama China dan Russia juga tak terhindarkan kendati perang dingin telah berakhir. Ini juga merupakan konsekuensi dari kewaspadaan AS terhadap keamanan nasionalnya sejak tragedy 11 September. Apalagi kedua negara diatas merupakan saingan terberat AS dalam persenjataan nuklir dan militer. Penggambaran mereka terhadap China dan Russia yang selalu ‘negatif’ dalam setiap filmnya seakan menggambarkan arogansi AS terhadap kedua negara tersebut dalam perihal militer dan kecanggihan teknologi. Lihat saja film the Departed (2006), Misssion Impossible III (2006), Salt (2010) dll. Pencitraan China sebagai bangsa yang licik, pengedar barang illegal, people smuggling sangat terkait dengan China selain konstruksi sebagai bangsa yang pintar, walaupun masih diidentikkan dengan plagiarisme/pembajakan. Sedangkan Russsia kerapkali diposisikan antagonis, negara yang frustrasi/iri dengan keberhasilan AS, baik dalam film Bourne Trilogy, Iron Man 2, Salt.

Tampak sekali AS, melalui industry perfilamannya membentuk konstruksi kehebatan AS sebagai negara paling maju dan mencitrakan negara lain ( terutama negara yang bersebrangan) lebih rendah. Hal ini dibentuk sedemikian ruapa sehingga melekat di pikiran setiap orang. Dan media film adalah media yang pas dalam menunjukkan hegemony AS, apalagi ketika kiblat perfilman dunia berhasil mereka pegang. Mereka seolah menentukan standar kualitas akan film apa yang berkualitas dan mana yang tidak, melalui persepsi media massa yang kuat.isu mana yang diangkat dan isu mana yang disembunyikan. Tak ayal, ketika film yang merupakan karya seni perlahan-lahan telah menjadi semacam popular culture yang tidak terhindarkan ketika telah dirongrong oleh teknik produksi yang massal dan berada dalam zona industry yang mengeruk laba. Tidak peduli idenya orisinal dan pengulangan asalkan laku , maka trend-setter itu akan terus berlanjut. Setelah mereka berhasil menguasai industry ini beserta media ini, dengan demikian power yang dimilki untuk membentuk konstruk sesuai pengguna modal akan tercapai.

Dan tahap selanjutnya yang ingin saya tekankan disini adalah betapa kuatnya doktrin dari film itu sendiri sebagai sebuah karya seni dan propaganda dalam menyampaikan sebuah issue sehingga memberikan perdebatan yang tak berkesudahan. Beberapa pakar sosiologi ataupun pengamat popular culture masih kabur dan berdebat dalam membedakan antara mana yang budaya massa, budaya popular, dan apa itu seni dan keterkaitan antara ketiganya. Hal ini disebabkan kesemuanya telah bercampur baur dan saling memasuki zona masing-masing, dan film adalah adalah salah satu contohnya, selain music, arsitektur dan televisi. Yang harus kita cermati disini adalah ketiga bagian diatas telah berasimilasi atau dirasuki oleh system kapitalisme itu sendiri. Semuanya tergantung pada kita sebagai penonton untuk lebih teliti dalam memandang fenomena yang sedang terjadi.

Tidak ada komentar: