Selasa, 12 Oktober 2010

REVIEW The Hurt Locker ( 2009) : UNEDITED VERSION

Menampilkan Sisi Lain dari Maskulinitas


Film ini sebenarnya telah dirilis pada 2008 yang lalu dan diputar di Venice International Film Festival 2008. Akan tetapi, baru pada 2009 dirilis secara serentak di AS. Film peraih 6 piala Oscar,termasuk film dan sutradara terbaik sempat membuat industry perfilman Hollywood tercengang. Film indie ini menjadi film dengan pemasukan terendah (hanya 12 juta dollar AS) yang memenangkan film terbaik dalam ajang Oscar. Tidak hanya itu, film ini ternyata disutradarai oleh seorang perempuan, sebuah tema yang sangat jarang disentuh oleh wanita. Sentuhan Bygelow sebagai soerang wanita sangat terasa sekali ketika menonton film ini terutama kemampuannya dalam menampilkan emosi yang sangat manusiawi dari tokoh James dan kawan-kawannya. Kathryn Bigelow mengambil lokasi di Jordan dan Kanada dalam memfilmkan kisah ini. Ini didasarkan pada tidak mungkinnya mengambil lokasi di Baghdad akibat factor keamanan. Kisah dari film ini mengambil focus kisah para penjinak bom di Irak, US ARMY Explosive Ordnance Disposal (EOD). Ceritanya sendiri ditulis oleh Mark Boal yang pernah menjadi penulis lepas atau jurnalis pada tahun 2004 bersama tim penjinak bom Amerika di Iraq.

Synopsis

Cerita bermula ketika Sersan William James (Jeremy Renner) ditugaskan sebagai pimpinan bom squad di Irak mengggantikan sersan sebelumnya yang tewas dalam sebuah operasi penjinakkan. Kepribadiannya James yang nyentrik dan slengean dalam menghadapi marabahaya jelas saja membuat dua anggota timnya, JT Sanborn (Anthony Mackie) dan Owen Eldridge (Brian Geraghty) khawatir. James membawa mereka bermain dengan maut sehingga dalam beberapa kali usaha menjinakkan bom berlangsung penuh kekhawatiran. Pengalaman James yang sudah menjinakkan bom ratusan kali membuat ia “tenang” mengemban tugas ini sehingga berhasil menyelamatkan nyawa ribuan orang. Hal ini, tetap saja ini membuat Sanborn kesal dan bahkan ingin mencelakakan James. Namun, semuanya berubah ketika mereka terjebak baku tembak di padang gurun. Rasa kesetiakawanan dan tanggung jawab James terlihat di situ. Mereka sadar dengan figure James yang seperti itu membuat tim mereka solid. Sampai kemudian, tiba saatnya mereka berpisah karena masa dinas sudah selesai. James kembali ke AS dan berperan sebagai seorang suami dan ayah dari seorang putra. Tetapi, ia mengalami pergolakan batin setelah menanggalkan seragam dinasnya. Rasa candu akan medan perang muncul melihat nasib perwira AS penjinak bom di Irak lewat TV? Akankah James kembali ke medan perang?

Review

Jangan harapkan menonton The Hurt Locker kita bakal disuguhkan perang epic berskala besar dengan sinematografi yang megah, penuh adegan baku-tembak dan juga dilengkapi dengan visual effect dan tata suara yang membahana . The Hurt Locker memang bebeda dengan film bertema serupa. Bukan berarti film ini kurang dalam unsur thriller seperti layaknya film perang atau sinematrografi yang tenang dan biasa saja. The Hurt Locker muncul sebagai film perang yang sangat personal (dituturkan lewat 3 karakter utama: James, Sanborn, Eldridge) dan apolitis (tidak melibatkan sudut pandang kebijakan dari pemerintah AS). Inilah yang membuat Hurt Locker serasa begitu hidup karena melibatkan begitu banyak emosi dan psikologi para penjinak bom yang ditugaskan di Irak. Betapa sebuah perang bisa menciptakan kecanduan akibat frustasi yang belebihan. Dan perasaan ini benar-benar terasa bekecamuk ketika kita menonton film ini. Lewat emosi dan perang batin yang ditampilkan oleh ketiga tokoh utama diatas, kita sebagai human being bisa merasakan betapa menderitanya seorang prajurit secara mental ketika bertugas di medan perang. Dan bagi para pria, film ini tampak menampilkan emosi pria sangat pas, yaitu menampilkan sisi maskulin pria yang bercampur baur dengan pengalaman traumatic.

Menampilkan sisi lain dari maskulin

Kita acapkali mendengar kalau wanita yang menjalankan dunia ini, maka perang tidak akan terjadi. Dalam film ini, karakter seorang wanita sangat jarang ditampilkan. Kalaupun mucul, itu hanya sekilas saja, seperti karakter istrinya James. Itupun hanya ditampilkan amat singkat. Selebihnya scene demi scene diisi dengan karakter pria. Sekedar informasi saja, hanya 4 % wanita yang berada dalam squad penjinak bom di Irak dan Afganishtan.

Dunia militer yang merupakan symbol kuat maskulin, ternyata juga memiliki sisi lain yang patut diungkap. Hal ini tereksplor mendalam dalam film ini. Kita bisa lihat, bagaimana seorang James yang sudah terbiasa menjinakkan bom, ternyata sangat rapuh ketika melihat penderitaan seorang bocah Irak yang menjadi korban bom dan seorang pria korban bom bunuh diri. Apalagi ketika ia mengingat kembali kisahnya dengan sang isri dan anak yang jauh di Amerika sana. Merokok, minum-minuman keras, dvd porno, prostitusi adalah hal yang wajar ketika para prajurit ditempatkan di medan perang. Naluri kejantanan itu muncul alamiah dalam kondisi seperti itu. Tak ada hiburan. Hanya hal-hal diatas yang tersedia dalam mengobati kegelisahan dan trauma yang dialami para prajurit. Selain itu karakter Sanborn, seorang pria kulit hitam yang tampak tangguh dan sangat jantan akhirnya menangis juga meratapai nasibnya ditempatkan di medan perang. Hal ini juga berlaku sama bagi Aldridge, yang sangat traumatic sehingga konsultasi dari seorang psikolog masih belum mempan mengobati traumatiknya. Bahkan dalam film ini, kondisi mereka yang selalu dalam tekanan dan selalu diambang maut ditumpahkan dalam sebuah adegan perkelahian setelah pesta minuman keras diantara mereka. Hal ini dilakukan sebagai upaya melepaskan bebas dan stress dalam operasi mereka di Irak yang telah berlangsung bertahun-tahun.

Ketika seorang pria dipaksa untuk melindungi negaranya melebihi kemapuan dan ketakutannya akibat yang ditimbulkan ternyata memiliki efek domino bagi kondisi kejiwaan para prajuritnya. Ada yang menjadi candu dan ada juga yang menderita gangguan jiwa. Dan The Hurt Locker jelas memberikan dan memaparkan sisi lain dari sisi maskulinitas pria yang ditempatkan di medan perang, bahwasanya pria juga ingin dilindungi. Mungkin factor, bigelow yang seorang wanita turut mempengaruhi hal ini.


*dimuat dalam majalah Stair HI UNPAD, edisi "pria"

TEKNOLOGI (INFORMASI dan KOMUNIKASI) dan IDENTITAS GENERASI 2000-an (PASCA REFORMASI)


“Kang, Teteh minta nomor handphonenya dong?” Ituah ucapan yang saya dengar dan ingat dari anak-anak SD ketika saya dan teman-teman sedang melkuakn KKNM di Desa Belendung, Subang. Mereka, padahal tidak punya handphone, melainkan meminjam punya orang tua mereka. Sampai sekarang beberapa diantara mereka masih menghubungi saya untuk menanyakan kabar dan hal-hal yang tidak penting lainnya ( hehehehe……)

Generasi yang baru tumbuh dan berkembang sepanjang dekade 2000-an memiliki semacam identitas yang sangat terkait dengan perkembangan tekonologi. Mulai dari kalangan masyarakat urban sampai pedesaan perlahan-lahan dijangkiti akan sebuah fenomena bahwa mereka secara tidak langsung/langsung memiliki kebutuhan baru yaitu pemenuhan kebutuhan akan teknologi. Teknologi yang saya bahas disini adalah akses yang memudahkan sesorang dalam memperoleh informasi dan berkomunikasi. Contoh yang paling sederhana adalah handphone. Menurut BRTI (Badan Regulasi Tekelominukasi Indonesia) jumlah pengguna handphone di indnesia pada tahun 2011 nanti diperkirakan akan menembus kisaran 100 juta pengguna. Selain handphone ,ajang pertukaran informasi dan komunikasi lainnya adalah intenet. Mulai dari kandungan akan informasi penting dan berharga sampai pada menjangkitnya situs porno dan yang sedang popular saat ini adalah situs pertemanan.

Seperti yang telah saya jelaskan diawal, bahwa pada tulisan ini yang akan saya bahas adalah generasi yang baru tumbuh dan berkembang pada dekade 2000-an. Dengan kata lain, saya memperkirakan mereka adalah genrasi yang dilahirkan pada dekade 90-an (dimulai tahun 1990). Mereka, adalah generasi yang tidak terlalu “terpengaruh” atau ada juga yang menyebutnya “tidak terkontaminasi” doktrin-doktrin ala Orde Baru. Generasi yang tidak menyimak secara langsung bagaimana jatuhnya Soeharto dari tampuk kekuasaan pada 1998. Mereka adalah generasi yang hanya mendengar babak sejarah negeri ini (jatuhnya Orde Baru) dari buku, media cetak dan elektronik atau cerita dari orang tua mereka. Kedua kondisi inilah yang ingin saya paparkan melalui tulisan ini, interaksi antara perkembangan teknologi (infomasi dan komunikasi) dengan genreasi yang tumbuh berkembang pada dekade 2000-an (setelah reformasi).

Saya sendiri yang juga kelahitan akhir 80-an (1989) merasakan semacam sensasi tersendiri memasuki dekade 2000-an ini. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang teramat pesat pada decade ini merupakan sebuah kejadian yang belum pernah terjadi pada decade sebelumnya. Teknologi yang awalnya hanya untuk memenuhi kebutuhan informasi dan komunikasi pada tataran fungsional perlahan-lahan berubah menjadi semacam unjuk diri, unjuk identitas, pertanda dari status (ekonomi) seseorang. Seperti halnya fashion pada wanita, teknologi informasi dan komunikasi (TIK) telah meresap ke dalam pikiran generasi-generasi tersebut. Bukan hidup tanpanya jikalau tidak memiliki handphone misalnya. Tidak hanya sebatas fungsi belaka, melainkan ada nilai lebih dari benda tersebut yang melekat pada diri mereka masing-masing. Harus ada semcam upgrading atau tukar tambah pada benda-beda tersebut agar tidak ketinggalan zaman. Bahkan sampai menggantinya atau menambah dengan produk keluaran terbaru. Sebut saja BlackBerry misalnya, yang sudah duluan popular di Amerika Serikat atau smart-phone lainnya, seperti I-phone atau pemutar MP3 dan MP4 yang terbaru. Jikalau fenomena akan handphone memang sudah merasuk sampai kepada pedesaan, untuk fenomena seperti BB, i-phone, pemutar MP memang baru menyentuh kalangan urban saja.

Selain handphone dan turunannya, internet merupakan “the amazing thing” yang terjadi pada dekade ini. Bukan berarti intenet beru ditemukan pada dekade ini, melainkan baru pada dekade inilah fungsinya mengalami progress yang sangat cepat dan sangat mempengaruhi kehidupan generasi-generasi tadi. Intenet jelas sekali memberikan informasi berharga bagi tiap individu, tetapi melihat perkembangannya yang teramat cepat. Internet sudah tidak lagi berada pada tahap fungsional belaka. Kendati penyebaran internet di Indonesia tidak merata, wabah akan kecanduan intenet sudah menjangkit di beberapa kota. Ada pemenuhan kebuuthan lainnya yang tidak didapat di dunia nyata dan terpenuhi di dunia maya. Menjangkitnya situs-situs porno sudah menjadi kekhawatiran bagi siapapun juga.

Selain pornografi, game online/game center juga merupakan bagian dari tren pada dekade ini. Komunitasnya, perlombaan juga semkain banyak. Efek candunya juga tak kalah dahsyat. Selain pornografi dan game-online, situs pertemanan merupakan sesuatu yang baru yang terjadi pada dekade ini. Tiap mereka berlomba-lomba membuat akun mulai dari Friendster, Facebook, Twitter, Plurk, Myspace,Yahoo Messenger dan sebagainya. Ada sesuatu yang kurang jika sesorang belum memiliki akun dari salah satu situs pertemanan. Mereka merasa ketinggalan infomasi kalau tidak membuat akun tersebut.

Semakin bertambahnya tahun, teknologi juga semkain berkembang, sekarang handphone dengan fasilitas internet juga telah menjadi keharusan bagi setiap pengembang. Dapat dibayangkan dunia seakan berada di telapak tangan dan itu bisa dibawa kemana saja. Permasalahan perkembangan teknologi tidak hanya merupakan cerita dari globalisasi belaka. Paham-paham materialistis juga menuyusp masuk lewat laju pertumbuhan tekonologi informasi ini. Hal ini pada akhirnya seakan menciptakan mindset bahwa ini adalah kemenangan kapitlaisme dan mereka-mereka ini akan terus disuguhi barang-barang bagus serta secara perlahan, pola hidup mereka akan dibuat seperti kaum kapitalis. Tidak terlalu hirau akan nilai-nilai sekitar, suka kompetisi. Yang terpenting hasratnya akan kebutuhan materi dapat tercapai.

Suka atau tidak suka, generasi sekarang, cenderung menjadi genrasi yang individualistis, bebas dan tidak terlalu terikat dengan norma yang ada disekitarnya. Mereka bukanlah generasi yang hidup pada dekade 70-an sampai 90-an, yang hidupnya sangat ditentukan oleh kekuatan terpusat yaitu Soeharto. Generasi sekarang yang tumbuh pada dekade 2000-an merupakan generasi penerus bangsa yang tumbuh dan berkemabng tanpa adanya “kekangan” dari Negara. Mereka tumbuh ketika kebebasan berpendapat diakui, demokrasi dan HAM menjadi topik dimana-mana dan pada saat itulah segala macam bentuk teknologi informasi dan komunikasi masuk kedalam kehidupan mereka. Semuanya berjalan beriringan. Ini seperti seorang remaja yang ketika tumbuh menghadapi lingkungan yang bebas, menghormati demokrasi dan HAM. Inilah nilai-nilai yang mereka dapat pertama kali ketika mereka tumbuh dan berkembang. Ini tentu berbeda dengan mereka yang tumbuh dan hidup dari dekade 70- 90-an yang baru merasakan dampak tekonologi informasi dan komunikasi ini pada decade 2000-an.

Budaya individual ini semakin terasa di kehidupan remaja sekarang. Ketika anda dapat mengetahui apapun dari internet atau menghabiskan waktu semaksimal mungkin di depan laptop dan internet, apakah untuk memainkan game atau mengerjakan tugas bahkan melihat situs porno, secara tidak langsung hal ini akan membentuk kita menjadi manusia yang tahu ‘segalanya”, membuat kita lebih independen sehingga kebutuhan akan individu lain semakin berkurang. Bayangkan saja, dulunya pada dekade 90-an, remaja laki-laki asik bermain layangan, atau bermain sepeda bersama, atau memainkan permainan rakyat lainnya dan remaja putri menghabiskan waktunya seperti main bongkar-pasang, masak-masakan serta pengajian bersama atau remaja majid masih menjadi budaya pada kehidupan bermasyarakat pada dekade itu. Mungkin di daerah pedesaan, belum semuanya terkontaminasi akan budaya individualitas, tetapi gejala-gejalanya mulai tampak terlihat. Ikatan antar warga sudah tidak sekuat dulu lagi. Ini saya alami ketika menjalani KKNM di sebuah desa di Subang.

Tentu hal ini perlu mendapat pemahaman yang serius dalam menangani pola pikir generasi sekarang (remaja). Mereka tidak sungkan lagi membicarakan hal seperti sex, drugs, dan berbagai macam hal tabu lainnya yang selama ini mendapat kekangan. Mereka dapat dengan mudah memperoleh-nya dari media manapaun. Diskusi mengenai seksualitas, pemikiran kiri (komunis) sudah menjadi hal yang tidak asing lagi dibicarkan terutama di univerisitas-universitas. Pengaruh internet sangat membantu sekali dalam hal ini.

Budaya individualitas pada generasi sekarang tampak pada kegigihan mereka dalam membuat akun di situs Facebook, Friendster atau Twitter. Ketika intensitas hubungan lebih banyak dihabiskan di dunia maya ketimbang di dunia nyata membuat rasa saling membutuhkan dan budaya canggung juga semakin meningkat. Sudah sampai sejauh itukah generasi sekarang ? Ini belum termasuk ketika mereka lebih terbuka akan kehidupan pribadi di dunia maya ketimbang dunia nyata. Bertukarnya status di Facebook atau Twitter dalam sekejap, mulai dari masalah pribadi sampai menggunjingkan orang semuanya ditumpahkan di status tersebut. Merupakan keanehan tentunya ketika kita lebih cenderung menumpahkan perasaan di dunia maya ketimbang dunia nyata. Bukankan itu gunanya teman??? Inilah gejala dari kebebasan yang belum matang pada generasi muda ini. Di saat kebebasan berpendapat diperkuat oleh teknologi dan media.

Belum lagi bagi mereka yang sangat bangga mempunyai banyak teman, tetapi sebenarnya tidak terlalu kenal dan ketika bertemu pun tidak saling tegur sapa. Mulai terdapat perbedaan definisi tampaknya dalam memandang teman dalam dunia nyata dan dunia maya. Ucapan selamat ulang tahun sampai pada kartu lebaran,SMS, semuanya lebih banyak dilakukan dalam bentuk transfer elektronik. Sudah bukan zamannya lagi mengirim dalam bentuk kartu Lebaran, kartu selamat Natal atau kartu ucapan selamat ulang tahun. Sebagian generasi tua memandangnya sebagai sebuah hal yang dianggap terlalu enteng bagi generasi sekarang.

Ketika kebebasan semakin mudah didapat, hal ini menimbulkan semacam “kemalasan” dan “ketidaksigapan” generasi sekarang. Mereka tumbuh di lingkungan yang cenderung instan dan semuanya harus berlangsung cepat. Ketika laju teknologi semakin berkembang, mereka juga harus melaju beriringan dengan teknologi tersebut kalau bisa lebih dari perkembangan teknologi. Budaya kompetisi tanpa terlalu mengindahkan nilai-nilai kekeluargaan semakin berkembang. Bagi genreasi tua hal ini menimbulkan ancaman bagi mereka. Ketika generasi sekarang lebih banyak tahu dari mereka tapi disisi lain juga rapuh dan tak sigap dalam menyelesaikan semua permasalahan. Mereka cenderung berbuat sesuka mereka, free-spirited, tetapi masih belum cukup dewasa/matang dalam menentukan sikap.

Inilah gambaran bagi generasi muda yang tumbuh dan berkmbang setelah 12 tahun reformasi Indonesia. Ketika system perlahan-lahan berubah, hal ini pada akhirnya saling mempengaruhi antar agen yang berada di dalamnya, termasuk generasi muda sekarang. Kebebasan bersikap dan berpendapat yang didukung dari perkembangan teknologi informasi yang signifikan memberikan semacam indentitas bagi generasi ini. Generasi yang akan memimpin bangsa ini kedepannya. Dan sudah sewajarnya pembinaan terhadap mereka dilakukan sebelum semuanya terlambat di kemudian hari.


*DIAJUKAN buat lomba essay pada FISIP FAIR 2010

REAKSI PERFILMAN HOLLYWOOD MENANGGAPI TRAGEDI 11 SEPTEMBER 2001

REAKSI PERFILMAN HOLLYWOOD MENANGGAPI TRAGEDI 11 SEPTEMBER 2001


Film merupakan sebuah bentuk apresiasi seni terhadap proses kehidupan mansuaia. Ide-ide bermunculan baik dari sumber luar maupun dari pemikiran sendiri (kendati dipengaruhi oleh sumber bacaan tertentu). Apa yang sedang berlangsung secara otomatis akan memberikan kontribusi bagi pemikiran dn karya kita. Begitu juga dengan perfilam Hollywood. Perfilman Hollywood dikenal lihai dalam mencirikan/menandakan suatu kelompok tertentu yang begitu melekat di pikiran semua orang sehinggga mampu menyelami ke titik bawah alam sadar kita tanpa kita sadar (unscuncious). Kita akan selalu diingatkan dan disuguhi akan hal yang sama tanpa terdasari kita sendiri juga telah masuk ke dalam konstruksi tersebut. Berhubungan tragedi 11 September seakan menjadi timeline sejarah yang monumental terutama dalam studi HI, saya akan mencoba melihat kontribusi peristiwa diatas bagi kelangsungan “ide” perfilman Hollywood. Tidak hanya terkait dengan isu terorisme saja melainkan juga cara pandang Hollywood terhadap negara-negara lain.

Melihat bagaimana perkembangan perfilman Hollywood sepanjang dekade 2000-an, terutama setelah tragedy 11 September, kita bisa lihat tema fantasi dan science-fiction, terutama dari komik superhero menjadi acuan utama sehingga decade 2000-an diidentikkan dengan film komik superhero dan fantasi. Sebut saja, Spiderman, The Daredevil (2003), Electra (2005), remake Superman, Batman, Green Lantern (rilis 2011), the Hulk, The Avegers (2011), Watchmen (2009), Iron Man (2008 dan 2010) Beberapa berasumsi menyatakan bahwa hal ini diakibatkan oleh aksi terorisme 11 September. Memang ide film dari komik sudah diangkat sejak decade 80-an, tetapi kuantitasnya tidak sedahsyat pada decade 2000-an. Entah karena alasan semakin minimnya scenario dan ide yang berlian, tetapi produksi film berjenis ini semakin membanjiri pasaran AS dan dunia sejak tragedi 11 September. Tentu ini menimbulkan pertanyaan menarik bagi siapaun menyimaknya.

Rakyat Amerika tidak ingin terus mengingat rangkaian yang mengerikan dalam sejarah mereka, maka dari itu para pembuat film ramai-ramai mencari komik superhero dan menggali lebih dalam substansi dari komik itu sendiri. Amerika tidak ingin diingat sebagai bangsa yang gagal dan kalah dalam perang. Mereka ingin selalu menjadi pemenang dan penyelamat dunia (yang tergambar jelas dalm komik superhero tersbut). Amerika harus menjadi pahlawan dan polisi dunia.

Sedangkan film fantasi layaknya trilogy The Lord of The Ring seakan membuai imajinasi penonton akan harapan yang optmis ketimbang berlarut-larut mengingat tragedy 11 September. Sudah tak terhitung betapa banyaknya film mahal dan kaya akan visual-effect canggih yang menunjukkan betapa kuatnya dan hegemoninya AS dalam perihal kecanggihan teknologi melebihi bangsa manapun saat ini. Ini semakin diperkuat ketika gelombang 3D semakin mencuat sejak Avatar yang fenomenal tersebut. Hampir semua film action, superhero, animasi saat ini memakai teknologi 3d. Tak heran film-film mahal yang menjual cerita sukses AS dalam teknologi menjadi isu penting dan ditonjolkan demi mengangkat kembali citra AS yang sempat terpuruk sebagai polisi dunia sejak tragedi 11 September. Dan isu nuklir, senjata kimia berbahaya, terorisme menjadi isu jualan utama film bergenre action ini.

Terkait dengan isu terorisme, tak bisa dilepaskan dengan invasi AS ke Iraq sejak 2003, sebagai tanggapan AS atas aksi terorisme global. Sejak saaat itu, film-film yang mengangkat backdrop Perang Iraq bermuculan, baik film bisokop maupun documenter. Tak heran berbagai macam cerita bermunculan menganagkat isu ini. Film-film yang menampilkan pesimisme Amerika di Iraq hamper semua tidak mendapat simpati para penonton, seperti Jarhead (2005) dan In the Valley ol Ellah (2007), Rendition.(2007), Brothers (2009), The Messengers (2009) Adapun kemenangan The Hurt Locker dalam Oscar, yang dipuji krtikus, lebih optimis dalam memandang Iraq kendati tetap menyorot rapuhnya mental pasukan AS di Iraq (juga terkait dengan rencana penarikan pasukan AS dari Iraq secepatnya) sehingga membuat The Hurt Lockjer special dibandingkan film sejenis ketika dikaitkan dengan isu politis.

Konstruk dalam film Hollywood terhadap negara-negara muslim sejak isu 11 Septemebr menjadi topic yang hangat dibicarakan. Lihat saja film Rendition (2007), the Flightplan (2005), Crash (2005), A Mighty Heart (2007), Babel (2006), the Kite Runner (2007), Charlie Wilson Wars (2007) dll menampilkan citra masyarakat dan negara islam/mayoritas islam identik dengan senjata, kekerasan, aksi pembunuhan serta kemiskinan. Referensi yang selalu dipakai adalah Al-Qaeda dan Taliban untuk mengeneralisasi umat muslim di seluruh dunia. Sedikit sekali referensi yang digunakan untuk menyibak motif mengapa mucul pemberontakan di negara muslim, yang selalu diidentikkan dengan terorisme sehingga dapat dipastikan cara pandang negara non-muslim terhadap muslim juga berubah dan cenderung menimbulkan ketakutan.

Kewaspadaan AS terhadap emerging power lainnya terutama China dan Russia juga tak terhindarkan kendati perang dingin telah berakhir. Ini juga merupakan konsekuensi dari kewaspadaan AS terhadap keamanan nasionalnya sejak tragedy 11 September. Apalagi kedua negara diatas merupakan saingan terberat AS dalam persenjataan nuklir dan militer. Penggambaran mereka terhadap China dan Russia yang selalu ‘negatif’ dalam setiap filmnya seakan menggambarkan arogansi AS terhadap kedua negara tersebut dalam perihal militer dan kecanggihan teknologi. Lihat saja film the Departed (2006), Misssion Impossible III (2006), Salt (2010) dll. Pencitraan China sebagai bangsa yang licik, pengedar barang illegal, people smuggling sangat terkait dengan China selain konstruksi sebagai bangsa yang pintar, walaupun masih diidentikkan dengan plagiarisme/pembajakan. Sedangkan Russsia kerapkali diposisikan antagonis, negara yang frustrasi/iri dengan keberhasilan AS, baik dalam film Bourne Trilogy, Iron Man 2, Salt.

Tampak sekali AS, melalui industry perfilamannya membentuk konstruksi kehebatan AS sebagai negara paling maju dan mencitrakan negara lain ( terutama negara yang bersebrangan) lebih rendah. Hal ini dibentuk sedemikian ruapa sehingga melekat di pikiran setiap orang. Dan media film adalah media yang pas dalam menunjukkan hegemony AS, apalagi ketika kiblat perfilman dunia berhasil mereka pegang. Mereka seolah menentukan standar kualitas akan film apa yang berkualitas dan mana yang tidak, melalui persepsi media massa yang kuat.isu mana yang diangkat dan isu mana yang disembunyikan. Tak ayal, ketika film yang merupakan karya seni perlahan-lahan telah menjadi semacam popular culture yang tidak terhindarkan ketika telah dirongrong oleh teknik produksi yang massal dan berada dalam zona industry yang mengeruk laba. Tidak peduli idenya orisinal dan pengulangan asalkan laku , maka trend-setter itu akan terus berlanjut. Setelah mereka berhasil menguasai industry ini beserta media ini, dengan demikian power yang dimilki untuk membentuk konstruk sesuai pengguna modal akan tercapai.

Dan tahap selanjutnya yang ingin saya tekankan disini adalah betapa kuatnya doktrin dari film itu sendiri sebagai sebuah karya seni dan propaganda dalam menyampaikan sebuah issue sehingga memberikan perdebatan yang tak berkesudahan. Beberapa pakar sosiologi ataupun pengamat popular culture masih kabur dan berdebat dalam membedakan antara mana yang budaya massa, budaya popular, dan apa itu seni dan keterkaitan antara ketiganya. Hal ini disebabkan kesemuanya telah bercampur baur dan saling memasuki zona masing-masing, dan film adalah adalah salah satu contohnya, selain music, arsitektur dan televisi. Yang harus kita cermati disini adalah ketiga bagian diatas telah berasimilasi atau dirasuki oleh system kapitalisme itu sendiri. Semuanya tergantung pada kita sebagai penonton untuk lebih teliti dalam memandang fenomena yang sedang terjadi.

Selasa, 15 Juni 2010

BEST SCREEN PRESENCE IN HOLYWOOD CINEMA : MALE (PART 1)

PART 1 : PENGANTAR

Tulisan saya kali ini akan memuat aktor-aktor yang memilki screen-presence terbaik di jagat perfilman Hollywood. Anda tidak akan menemukan nama-nama kondang dan gaek seperti AL-Pacino, Robert Deniro, Dustin Hofmann, Gene Hackman dan Jack Nicholson. Tulisan saya kali ini hanya memfokuskan pada aktor-aktor yang memulai karirinya sejak pertengahan 1980-an sebagai debut awalnya di Hollywood. Dan perlahan-lahan mulai menikmati ketenaran pada akhir80-an dan awal 90-an. Harus saya akui, aktor-aktor inilah yang banyak saya tonton karyanya. ini disebabkan pada masa inilah saya tumbuh dan berkembang sebagai penikmat film. DAN SEKALI LAGI SAYA BUKAN SEORANG KRITIKUS FILM!! Saya hanya seorang penikmat film. Seorang kritkus film menonton segala macam jenis film, menurut saya, dan hampir tiap harinya dihabiskan untuk menonton film. Sedangkan saya tidak sama sekali!!! SAYA HANYA SEORANG MAHASISWA HUBUNGAN INTERNASIONAL BIASA YANG LEBIH MENYUKAI FILM KETIMBANG DUNIA POLITIK YANG HIRUK-PIKUK!!!! WHAHAHAHA

Sudah bukan rahasia lagi, sebagai seorang aktor screen-presence adalah faktor andalan utama dalam membuat penonton sinema terhanyut oleh akting si aktor. banyak yang berpendaapt bahwa screen-presence tidak terlepas dari karisma dan bakat alami yang dimiliki si aktor dalam mengolah peran yang dilakoninya. Tidak harus selalu memiliki wajah tampan dalam konstruksi ala Hollywood dan budaya popular, tetapi yang dibutuhkan adalah "wajah yang berkarakter" dan photogenic tentunya. Sedangkan ketampanan adalah bonusnya, khususnya bagi penonton perempuan. Tak peduli genre apa yang dimainkannya, mulai drama berat, komedi, rom-com, sampai action dia tidak pernah kehilangan penontonnya. Dia menjadi seorang panutan ketika dia muncul di layar. Tidak peduli berapa panjang karakter yang diessaykannya. Yang pasti, penonoton selalu ingin melihat dan menanti dirinya dsetiap frame-nya ketika karakternya tidak muncul di layar. Itulah yang dikatakan POWER. Kita akan sangat sulit/tidak mungkin membayangkan aktor lain memerankan karakter yang diperankannya, saking terpesonanya penonton akan mimik dan bahasa tubuhnya. Because we love them instantly and (naturally) !!!!

Tidak ada indikator yang ajek dalam menilai seorang aktor itu memiliki screen presence yang baik, karena penilaian lebih diarahkan pada tataran psikologis dan emosi (perasaan) ketika kita menyaksikan bahasa tubuh mereka di layar bioskop. Tidak selalu seorang STAR adalah seorang ACTOR. dan tidak semua ACTOR adalah seorang STAR. Mereka yang memiliki screen-presence terbaik adalah mereka yang memenuhi dua kriteria ini pada umumnya. Mereka juga seorang bankable actor (film2nya rata-rata hit/box-office) dan juga seorang aktor watak yang biasanya lihai memainkan peran-peran dengan tingkat kesulitan yang tinggi dan pastinya dipuji-puji oleh media dan kritikus film serta memenangkan award. Mustahil jika ia seorang screen-presence yang baik, tetapi filmnya flop di pasaran. Justru karena screen-presence yang menawanlah penonton mau berduyun-duyun menyaksikannya, kendati filmnya sucks sekalipun. Dan pastinya itu ditunjang oleh acting yang menawan selain karakterisitk wajah yang unik dan memukau. Jika tidak ditunjang dengan kemampuan akting yang mumpuni, mereka akan terlihat sangat membosankan di layar. Berikut ini adalah aktor-aktor yang menurut saya (secara acak) memiliki screen-presence terbaik di Hollywood :

1. Robert Downey Junior
2. Tom Hanks
3. Denzel Washington
4. Johnny Depp
5. Leonardo Dicaprio
6. Russel Crowe
7. George Clooney

Special Mention : Brat Pitt

Untuk penjelasan lebih detail terhadap masing-masing aktor akan saya sampaikan pada bagian yg ke dua ttg Best Screen-Presence in Hollywood : MALE.

Sabtu, 12 Juni 2010

PERKARA TENGAH MALAM (PART 1)

Mulailah Mengaji……………

Entah kenapa, di tengah malam yang sunyi senyap ini, hati saya terketuk menulis perkara ini. Disaat kondisi fisik sedang tak prima, pikiran saya melayang-layang mengingat berbagai romansa masa lalu, dan tak tahu kenapa saya jadi teingat masa kecil saya yang kental nuansa islami sembari memandangi tafsir Al-qur’an yang tersusun rapi berdampingan dengan pemikiran Marx, Foucault, Gramsci, Stiglitz. Mereka tersusun elok di rak buku…

Tetapi saya tak punya alasan yag jelas mengapa pikiran saya terpusat pada perkara ini. Saya ingat-ingat kembali, entah kenapa….ketika diri tak lagi kuat…..dan lagi-lagi entah kenapa….saya jadi teringat akan Tuhan. Saya pun merasa seperti seorang hipokrit, yang mengingat Tuhan tatkala ketika sedang adalam kesusahan dan dalam kelemahan. Kalaupun saya memang hipokrit, setidaknya dipikiran saya masih terlintas perkara Tuhan.

Masih terbenam kuat di benak saya, ketika dulu saya masih disuruh-suruh orang tua buat ngaji. Dulu itu zamannya masih TPSA. Di Sumbar khusunya dimana agama dan adat berjalan ber iringan, sesuai falsafah hidup orang Minang “adat basandi syarak-syarak basandi kitabullah”, mengaji adalah aktivitas yang bisa dikatakan ‘wajib” bagi anak-anak seumuran saya. Tidak bisa mengaji adalah sebuah hal yang memalukan dan bisa menjadi cibiran/tertawaan para tetua disana. Selintas mungkin ini terkesan “keras” bagi orang-orang yang hidup perkotaan apalagi kalau dipandang dari kacamata era 2000-an ini. Hahahhahahahha, tapi saya malah berpandangan sebaliknya. Kalau saya ingat lagi maka betapa indahnya masa itu dibandingkan zaman sekarang, yang terasa kering dan gersang menurut saya. Sunguh saya rindu masa-masa itu.

Saya masih ingat sekali, saya mengaji itu mulai kelas 1 SD di sebuah TPSA, mulai dari Iqra sampai Al-Qur’an saya menamatkan di masjid yang sama dan telah melewati berbagai macam udztad/pengajar yang rata-rata adalah mahasiswa IAIN di Padang. Ada yang tahan dengan kelakuan nakal para asuhannya, ada juga yang tidak. Yang tidak tahan, hanya bertahan beberapa bulan saja, setelah itu hengkang mencari masjid yang lain. Sebagian besar diantara mereka tinggal di masjid.

Saya masih ingat sekali, tak jarang mereka mengejar anak-anak yang nakal yang berisik dan malas sekali untuk disuruh berwudhu. Hahahhaa, dan anda bisa tebak, mereka kerapkali menggunakan ‘rotan” yang diikat ketika mengajar dan mengejar anak-anak yang berlarian kesana-kemari. Tak jarang mereka memukulkan rotannya ke mejanya ketika anak-anak yang mengaji menjadi berisik atau salah diantara kami belum juga lancar mengajinya…. Jika dibandingkan dnggan metode pengajaran sekarang yang sangat ‘ramah” mungkin kita bisa melabeli para pengajar kita dulu adalah seorang konservatif. Aghhhhhhh, tetapi tidak juga . Menurut saya, setiap masa menurut saya punya ciri khas dan keunikan sendiri yang tidak bisa dinilai begitu saja melalui perspektif saat ini karena pastinya akan menimbulkan bias…..

Saya masih ingat sekali, ketika saya begitu takutnya ke masjid, ketika kami diajar oleh guru baru yang menurut saya "killer". Saya sampai mencari alasan agar tak ikut mengaji di masjid. Saya sampai sembunyi di balik sofa sekitar 2 jam agar tak pergi ke masjid. Dan tak seorangpun keluarga saya mengetaui kalau saya sembunyi di balik sofa. Bahkan saya pernah "over-acting" ketika jatuh dari sepeda dan terdapat luka robekan di lutut saya. Sebenarnya lukanya sih ringan, tapi saya sengaja pasang muka memelas kepada orang tua saya kalau lukanya sakit sekali, supaya saya tidak jadi pergi masjid. Saya takut sekali ke masjd, karena sampai saat itu saya masih belum bisa mengaji dengan irama. Seingat saya ada 7 macam irama ketika membaca Al-Qur’an, dan saya sama sekali tidak menguasai salah satunya. Enath karena gurunya yang keras, saya kira…..

Saya masih ingat sekali ,sepulang dari masjid berlarian sangat kencang dengan rekan-rekan saya menuju umah masing-masing. Berlarian dengan teramat kencang memberikan kepuasan sendiri setelah “suntuk” mengaji di masjid. Selain sebagai upaya untuk tidak tampak takut. Karena masa kecil saya banyak sekali dirasuki oleh cerita hantu oleh para warga dan teman-teman mengaji saya sendiri. Dan karena jalan dari masjid ke rumah saya juga sangat gelap, maka berlari teramat kencang adalah solusi yang jitu saya rasa. Hahahhaha. Tak jarang saya minta jemput sehabis mengaji di masjid. Kalau tidak ada yang menjemput saya pulang mengaji, ini adalah aktivitas yang saya lakukan….BwaHahahhhaahah……..

Saya masih ingat sekali, terpaksa menemani sepupu perempuan saya (waktu itu sedang di bangku SMK) yang pacaran di lorong-lorong gelap ketika menjemput saya mengaji, terutama kala hujan sedang turun lebat-lebatnya. Dia menggunakan kesempatan ini karena tidak diridhoi oleh keluarga saya kala itu, karena si cowoknya terkenal “preman” dan sering mabuk katanya. Jadilah pacarannya “backstreet” tapi ini tidak berlangsung lama, Cuma sekitar 1-2 bulan.

Saya masih ingat sekali, sejak kelas 2 SD saya mulai sering mengikuti lomba membaca ayat pendek, lomba sholat, lomba sholat mayat, dan lomba wudhu. Lomba yang pernah saya menangi hanya lomba wudhu. Untuk lomba baca ayat pendek saya setidaknya harus hapal 23 surat pendek. Begitu juga dengan praktik sholat saya benar-benar harus "bersih" dalam pelafalannya (huruf arab). Pada wakti itu saya sama sekali seperti robot, tidak mengerti apa yang saya lakukan, yang saya lakukan hanyalah hapalan dan persiapan buat lomba. Jujur saja, semasa SD walaupun saya pernah ikut lomba ,tetapi saya jarang sekali sholat. Orang tua saya sampai kesal akan hal ini. Dan pernah nyindir saya percuma saja kamu ikut lomba ini-itu tapi tak pernah ada realisasinya dalam kehidupan nyata. Haghhhhhh, pada waktu itu saya cuma mengiyakan saja, tak mau membantah ucapan orangtua saya….

Entah kenapa, saya jadi rindu masa-masa itu di tengah keheningan malam ini. Sesekali saya mulai lagi mengaji dan membaca terjemahannya. Sebuah aktivitas yang sudah tahunan tidak saya lakukan lagi. Saya masih beruntung mengingat masa-masa itu, karena tidak semua anak-anak yang tumbuh dan berkembang sekarang bisa mengalaminya lagi. Dan memang pengalaman pada akhirnya membentuk kepribadian seseorang…..

To be continued………………………

Jumat, 11 Juni 2010

MAKING GENDER A GLOBAL HEALTH PRIORITY

MAKING GENDER A GLOBAL HEALTH PRIORITY


Tantangan dalam ranah kesehatan global belakangan ini lebih banyak memberikan pengaruh bagi kaum perempuan. Permasalahan mengenai akses terhadap, informasi, pelayanan serta sumber daya kesehatan meningkatkan kerentanan perempuan terhadap berbagai macam penyakit. Maka dari itu, AS berupaya menjadi perintis dan menyusun berbagai strategi dalam mengatasi disparitas gender yang telah banyak mempengaruhi kondisi kesehatan pada taraf global. Perhatian yang besar dalam bidang kesehatan perempuan akan memberikan “pengaruh yang baik” bagi AS dalam strategi kesehatan global. Hal inilah yang menjadi salah satu kepentingan, daya tarik dan prioritas kebijakan luar negeri AS dibawah Presiden obama dan Menlu Hillary Clinton. Hal ini kontan saja mendapat apresiasi dari berbagai kalangan sehingga berdampak positif bagi citra AS dimata dunia. Jelas isu kesetaraan gender dalam kebijakan luar negeri AS merupakan hal yang patut disimak.

Untuk mengaplikasikan hal tersebut, pemerintah AS mengenalkan pendekatan dengan konsep Gender Lens, sebuah pendekatan yang memiliki dampak signifikan, menjangkau orang banyak,serta mampu memberdayakan tim pemerintah AS, prirotas kerja, evaluasi dan pengawasan sistem,alokasi dana serta kesepakatan diplomatik. Kesemua hal ini terakait satu sama lainnya. Selain itu, dengan adanya krisis global yang sedang terjadi semkain memperburuk kondisi disparitas gender bagi kaum perempuan. Oleh karena itu, AS bertekad menjadikan pendekatan gender sebagai prioritas utama dalam penanganan permasalahan kesehatan global.

What Is a Gender Lens?

Gender lens mengandung arti yaitu memberikan perhatian khusus terhadap kerentanan dan disparitas gender yang memberikan pengaruh terhadap kesehatan global. Pendekatan ini diharapkan mengurangi hambatan bagi perempuan dalam mengakses informasi, pelayanan serta sumber daya terkait masalah kesehatan. Pendekatan ini memungkinkan isu yang diangkat semakin luas dan spesifik sehingga lebih detail dalam menganalisis permasalahan gender. Maka dari itu dibutuhkan data yang lengkap terkait besarnya keluarga, tunangan, masalah kesuburan, kekuasaan, akses, serta peran perempuan dalam rumah tangga. Hasil dari penelitian ini diharapkan akan membawa pada pertanyaan akan pengetahuan, akses, pengaruh pengambilan-keputusan. Issu seperti kekerasan yang terkait gender (gender-based violence), dapat menimbulkan dampak yang besar jika dilihat sebagai isu independen daripada sebuah kesatuan dalam strategi kesehatan global. Bahkan tak jarang intervensi aspek kesehatan yang pokok seperti imunisasi, suplemen nutrisi, kelambu (bed nets) untuk tidur bagi pencegahan malaria kerapkali gagal untuk menyadari dinamika geder yang berkontribusi terhadap risiko, tekanan, dan kerentanan.

Making gender a global health priority

Ada 4 komponen dalam menjadikan pendekatan gender sebagai priotiras dalam penanganan kesehatan global yaitu: kesehatan bayi dan keluarga berencana, penyakit infeksi, kekerasan yang berbasis gender, ketahanan pangan. Menangani permasalahan ini, pemerintahan Obama merekomendasikan tiga poin diantaranya:

• membutuhkan gender lens dalam perencanaan dan pengaplikasian program.

• mendukung kemampuan dalam meningkatkan dan memobilisasi sumber daya yang ada.

• koordinasi antara perwakilan pemerintah AS dan mengenalkan kepemimpinan global AS.

Adapun upaya untuk menjadikan gender sebagai prioritas utama kesehatan global, haruslah terlebih dahulu menentukan: tujuan yang ingin diraih, prioritas investasi, memilih tempat untuk pelkasanan program serta mengukur perkmbangannya. Keempat pertanyan inni akan memberikan inforasmi terkait skala dan struktur dalm penyuusnan strateginya sehingga akan diketahui ranaha apa yang paling diutamakan. Apakah politik, budaya atau agama. Oleh karena itu untuk menyukseskan dinutuhkan kerjasam antara pemerintha dan NGO terkait.

New Directions from the Obama Administration

Dalam pemerintahan Obama, terkait dengan isu wanita, didirikanlah sebuah dewan yang khusus menangani isu ini, yaitu White House Council on Women and Girls. Bahkan isu perempuan dimasukkan ke dalam salah satu pilar dari Global Health Iniative (GHI). Ini mencerminkan dibawah pemerintahan Obama dan Menlu AS Hillary Clinton, isu kesehatan Perempuan telah dimasukkan dan diakui sebagai bagian penting dari national security AS. Oleh karena itu, demi memaksimalkan program ini pemerintahan AS tak tanggung-tanggung mengucurkan dana yang teramat banyak dalam menangani isu kesehatan wanita ini yang tidak hanya dikucurkan di AS tapi juga dalam taraf global. Untuk permasalahan keluarga berencana dan kesehatan dan pencegahan kematian bayi, pemerintahan Obama mengucurkan dana sebesar 63 milyar dollar pada May 2009. Pada Juli 2009, Terkait masalah ketahanan pangan, AS menggelontorkan dana sbesar 20 milyar dollar. Sedangakan untuk pengatasan masalah gender-based violence, AS mengucurkan dana yang tidak sedikit sebesar 17 milyar dollar AS ke Kongo pada Agustus 2009. Dalam menjadikan penanganan kesehatan global yang berdasarkan gender, pemerintahan Obama turut bekerjasama dengan para advokat perempuan, NGO, Kongres.

Past U.S. Policy on Gender Equity and Global Health

AS sendiri telah lama menjadi pemimpin dalam penangan kesehatan global baik secara keuangan dan teknis di lapangan. Itu bisa dilhat adanya sebuah body dalam USAID yang bernama Woman In Development (WiD) didirikan pada 1998 yang menangani masalah kelahiran ibu dan kesehatan anak. Sedangkan Kongres membiayai semua hal yang berhubungan dengan kesehatan ibu dan anak. Pada 1997, USAID mendirikan Inter Agency Gender working group (IGWG) yang bertugas membantu mempromosikan kesetaraan gender melalui KB, kesehatan, program makanan. IGWG merupakan gabungan dari berbagagi macam jaringan agensi yaitu USAID, NGO, kelompok advokasi, kelompok peneliti yang tertarik akan isu gender ini bagi kesehatan global.Selain itu juga USAIDS juga memasukkan issu gender ke dalam ADS (Annual Directive System), sebuah panduan resmi agensi terkait kebijakan dan operasional prosedur isu gender agar isu ini dimasukkan ke dalam dokumen resmi agar dijadikan proposal, program, dan tindakan langsung tehadap isu gender. Hal ini bertujuan melihat bagaimana gender berperan, memiliki norma dan sumber daya terhadap masyarakat sehingga mempengaruhi kesehatan pria dan wanita tentunya.

Selain itu juga ada The President’s Malaria Initiative (PMI), sebuah program lima tahunan yang telah dimulai sejak 2006 dengan anggaran sebesar $1.2 milyar, yang dirancang untuk mengurangi kematian akibat penyakit malaria di Sub-Sahara Africa hingga 50 persen. Program ini fokus pada penanganan kematian dan kesehatan ibu terhadap penyakit malaria. Target utamanya agar 85 persen wanita hamil dan anak dibawah 5 tahun hidup dalam kondisi yang jauh dari bahaya malaria dengan berbagai perlindungan diantaranya melalui penyemprotan. Selain PMI, ada lagi program pemerintah AS terkait penyakit AIDS yang bernama PEPFAR (President’s Emergency Plan for AIDS Relief), PEPFAR memberikan kemajuan dalam mengintegrasikan gender kedalam. Walaupun PEPFAR tidak mempertimbangkan gender sebagai isu prioritas pada tahap awal, tapi kemudian isu ini menjadi nyata dalam mencapai tujuannya dalam perihal pencegahan, pelayanan, serta perawatan dan memastikan kualitas dari program ini serta pelayanan yang berlandaskan gender dalam pandemi HIV. Berdasarkan Office of the Global AIDS Coordinator (OGAC) komitmen terhadap isu gender meningkat serta mengadopsi 5 strategi gender bagi pencegahan AIDS diantaranya: meningkatkan kesetaraan gender, memusatkan perhatian pada norma pria,mengurangi kekerasan dan paksaan seksual, meningkatkan perlindungan hukum terhadap wanita, dan meningkatkan akses terhadap pendapatan dan sumber daya produktif

Maternal and Child Health/Family Planning

Tingkat kematian ibu melahirkan masih sangat tinggi di beberapa kawasan di dunia. Yang paling tinggi terdapat di kawasan Sub-Sahara dan Asia Selatan. Adapun mayoritas dari kebanyakan kasus kematian ibu melahirkan sangat terkait dengan kemiskinan, minimnya akses kesehatan dan ketidaksetaraan gender. Sebagai perbandingan, tingkat kematian ibu melahirkan di Sub-Sahara mncapai 1 dari 30, di Asia Selatan dari 43 sedangkan di Swedia 1 dari 30 ribu orang. Tampak sekali pada kawasan ini kemajuan dari kesehatan ibu melahirkan menunjukkan perkembangan yang sangat lambat. Dan semakin disadari betapa pentingnya pendekatan gender dalam menangani isu ini. Adapun tingginya tingkat kematian ibu melahirkan menunjukkan ada “tiga keterlambatan” dalam proses melahirkan. Pertama, keterlambatan dalam mencari perawatan (tergantung dari keluarga), keterlambatan dalam menuju fasilitas kesehatan (infrastruktur transportasi), keterlambatan dalam menerima perawatan ( kelangkaan tenaga medis dan perlengkapan kesehatan).

Kesemua keterlambatan ini sangat terkait dengan permasalahan gender yang menghambat kemampuan wanita untuk memperoleh perawatan yang layak. Harus diakui faktor keluarga sangat berperan. Di Asia Selatan dan Sub-Sahara, 80 persen kelahiran dilakukan di rumah. Hal ini berdampak pada kerentanan keselamatan ibu melahirkan karena tidak dikawal dengan alat yang memadai dan tenaga ahli. Rendahnya perawatan terhadap proses sebelum, saat dan sesudah melahirkan akan sangat mempengaruhi proses perkembangan bayi yang juga semakin meningkatkan tingkat kematian bayi itu sendiri. Tidak hanya bagi bayi, tapi bagi sang ibu juga berbahaya ketika tidak mendapatkan perawatan yang layak. Kematian dan penyakit yang diderita si ibu akibat proses melahirkan akan memberikan efek yang besar dalam rumah tangga baik dari segi pendapatan dan kontribusi ekonomi serta memperluas tekanan sosial. Untuk itu dibutuhkan solusi seperti informasi terkait ASI, KB dan peningkatan kualitas tenaga medis. Terlebih lagi jika si ibu juga sedang sekarat akan AIDS.

Selain itu, dalam upaya untuk meningkatakan upaya peningkatan kesehatan keluarga, sangat dibutuhkan family planning (KB). Sebagian besar para ahli sepakat, bahwa informasi yang memadai terkait KB akan sangat membantu dalam mengurangi kematian ibu melahirkan. Kerapkali “The unmet need” menjadi persolan dalam KB. Sekitar 200 juta perempuan ingin membatasi dan memberi jarak kelahiran tapi mereka tetap tidak menggunakan kontrasepsi. Dan faktor gender sangat terkait dengan isu ini. Itu bisa dilihat dari pelayanan dan level pendidikan yang masih susah diperoleh perempuan, kondisi geografi, serta tingkat otonomi wanita terhdap dirinya sendiri yang masih dikendalikan pria terutma di negara berkembang dan ini semakin diperparah jika dia terlahir dari kelurga miskin di negara berkembang. Selain masalah diatas, kehamilan pada saat remaja juga menjadi hirauan dari kajian ini. Di negara berkembang hal ini menjadi penyumbang tertinggi dalam tingkat kelahiran ibu dimana tingkat kematian pada ibu melahirkan yang masih berusia 15-19 tahun sangat lah rentan jika dibandingkan dengan wanita di usia 20-an. Dan hal ini juga ditimbulkan dari adanya disparitas gender.

Infectious Diseases that Disproportionally Affect Women

Penggunaan dan pengumpulan data yang berbasis gender dalam menganalisiis penyakit menular cukup jarang digunakan. Terlebih lagi jika menyangkut mengenai STI (penyakit menular seksual). Dalam hal ini ada perbedaan biologis antara pria dan wanita yang mempengaruhi laju penularannya. Dan wanita lebih rentan terkena penularan AIDS. Maka dari itu dibutuhkan pendekatan gender untuk menangani masalah ini. Peran dan pola gender memiliki dampak yang signifikan terhadap transmisi HIV. Ini terlihat kala wanita tidak bisa menegosiaksikan seks dan penggunaan kondom dengan pria. Sedangkan pria semakin sibuk mencari partner lain yang lebih banyak dan mengambil risiko lainnya dan kembali meninggalkan wanitanya yang telah tertular. Pengaruh feminim dan maskulin sangat kuat dalam hal penyebaran penyakit menular seksual khusunya. Kurangnya akses perempuan terhadap sumber daya ekonomi, pendidikan, dan keahlian menyebabkan mereka semakin renatan akan penularan HIV AIDS. Salah satu upaya yang dpat dilakukan adalah melaui KB. Melalui KBlah wanita dapat memperoleh informasi terkait HIV AIDS termasuk pencegahnnya.

Selain AIDS malaria juga merupakan penyakit menular yang membutuhkan pendekatan gender dalam analisisnya. Walaupun secara psikologis pria dan wanita sama rentannya terhadap malaria, tetapi wanita hamil dan anak-anak lebih rentan lagi terhadap penyakit ini. Pengaruh gender terhadap pencegahan penyakit malaria juga sangat diperlukan. Adanya pembagian kerja (divison of labour) antara pria dan wanita membuat wanita lebih rentan terkena gigitan dan infeksi dari nyamuk. Selain itu adanya gender-barriers juga mempengaruhi akses perempuan dalam ememperoleh pelayanan dan perawatan malaria serta pencegahan melalui bed nets ( kelambu) .

Gender-based Violence

Kekerasan berbasis gender, tidak hanya dalam bentuk fisik saja, tetapi lebih banyak dalam bentuk emosional/non-fisik. Wanita kerapkali menjadi subjek dari kekerasan berbasis gender ini, dan umumnya merupakan kekerasan seksual, baik KDRT, maupun kekerasan seksual pada anak-anak. Efek dari kekerasan berbasis gender secara fisik akan berakhir ketika kekerasan itu berakhir. Akan tetapi, dampaknya secara mental bakal lebih lama karena telah lama terakumulasi. Berdasarkan data WHO, wanita hamil yang mengalami kekerasan ini lebih berpotensi mengalami keguguran dan aborsi. Efeknya tidah hanya sampai disitu bahkan kematian juga mengancam. Bunuh diri, kerusakan pada alat genital dan reproduksi merupakan efek lainnya. Secara global kekerasan ini merupakan salah satu penyebab tingginya tingkat kematian pada wanita. Kekerasan berbasis gender ini lebih sering dijumpai ketika terjadi konflik horizontal,seperti di Rwanda, Yugoslavia, Kongo serta Darfur. Kekerasan seksual, pemerkosaan menjadi “senjata” lainnya bagi para opposan dalam menjatuhkan lawan serta sebagai alat untuk menghancurkan struktur sosial selain untuk merebut kekuasaan. Pemerkosan tidak hanya dilakukan oleh musuh tapi juga oleh para tentara sendiri. Pada kasus Rwanda (1994) sebanyak 250 ribu wanita menjadi subjek kekerasan sesksual, dan sebagian besar diantara mereka akhirnya tertular oleh HIV. Oleh sebab itu, upaya seperti KB, pelayanan kesehatan (termasuk didalamnya pelayanan kesehatan alat reproduksi) harus menjadi poin utama dalam mengatasi permasalahan ini.

Food Security

Ketahanan pangan sangat terkait sekali dengan permasalahan gender. Berdasarkan data WFP, wanita lebih banyak bekerja di bidang pertanaian, tapi lebih sedikit dalam mengonsumsi makanan. Pada banyak negara berkembang, wanita sering menjadi orang yang terakhir makan setelah anak-anak dan keluarga mereka yang lain menyelesaikan makannya. Wanita juga merupakan aktor kunci dalam perkebunan dan pertanian di sebagian besar negara berkembang. Wanita menjadi pengumpul kayu untuk bahan bakar, pengambil air yang jelas sangat membahayakan pada situasi tertentu, diantaranya rawan akan kekerasan seksual karena harus menmepuh lokasi yang terkadang membahayakan. Meskipun mereka menjadi andalan dalam memberi makan keluarga mereka, mereka seringkali ditolak untuk memiliki sebuah lahan pertanian/perkebunan, air, teknologi, kredit. Bahkan mereka juga seringkali ditolak untuk masuk kedalam sebuah kelompok tani. Walaupun mereka memproduksi 60-80 persen makanan, tetapi mereka hanya memiliki 1% lahan. Kondisi ini semakin diperparah dengan rentannya wanita terkena HIV akibat kurangnya asupan gizi yang mereka peroleh. Ini terjasi di Botswana dan Swaziland. Selain itu upaya untuk memperlama hidup penderita AIDS adalah dengan asupan gizi yang memadai. Dan wanita di negara berkembang kebanyakan kesulitan dalam memperoleh asupan gizi yang memadai. Semua kondisi diatas semakin diperparah apabila wanita berada dalam periode kritis seperti pada masa kehamilan. Kekurangan zat besi, anemia akan sangat membahayakan ketika proses melahirkan dilakukan dan berperan terhadap 20 persen kematian kelahiran bagi si ibu.

Rekomendasi dari Pemerintah Obama

1.Require a Gender Lens in Design and Implementation of U.S. government-supported programs, diantaranya: mengurangi hambatan dan kerentanan dalam memperoleh pelayanan kesehatan, secara rutin mengumpulkan, menganalisis, laporan kesehatan serta penyakit berdasarkan kelamin dan umur serta mengolahnya untuk memperoleh level disparitas gendernya, mengidentifikasi ¾ negara di dunia untuk lebih memfokuskan pada pendekatan gender dalam mengatasi masalah kesehatan global, meningkatkan kualitas sumber daya manusia dengan pengetahuan yang memadai terkait tentang gender dengan menggunakan pakar gender, penanganan yang lebih komprehensif dan terintegrasi untuk memudahkan wanita membawa anak mereka untuk imunisasi,klinik kelahiran dan informasi yang memadai terkait KB, kesehatan reproduksi, pencegahan penyaklit menular seperti HIV dan malaria.

2.Support Capacity Strengthening and Resource Mobilization, diantaranya: menghapuskan hambatan bagi wanita miskin untuk memperoleh pelayanan kesehatan untuk melahirkan dan proses sesudahnya, memobilisasi sumber daya, mengenalkan hubungan dan program yang terintegrasi antara kesehatan glonal AS dengan program pembangunan (pendidikan, ekonomi), pelatihan bagi semua provider kesehatan untuk mengkhususkan kebutuhan kesehatan bagi wanita, remaja, gadis

3. Coordinate among U.S. Government Agencies and Promote U.S. Global Leadership, diantaranya: melanjutkan kepemimpinan global AS dalam memprioritasksan gender sebagai upaya mengatasi masalah kesehatan global, memastikan kantor perwakilan duta besasr yang terkait isu perempuan terlibat langsung dalam program pembangunan yang berkaitan dengan kesehatan global, menciptakan agen yang saling terkait yang membuat semua orang peduli akan geder dalam kebijakan kesehatan global AS dalam Global Health Iniative-nya, menugaskan Presidential Policy Directive (PPD) untuk membuat kesetaraan gender dalam program pembangunan AS dan memastikan Gender Lens diaplikasikan dengan baik, adanya komisi yang bernama “National Intelligence Council” (NIC) untuk melaksanakan implikasi strategi dalam kesehatan global dan pembangunan serta menganalisis dampak potensial bagi kepentingn nasional AS dalam meningkatkan fokus terhadap ranah gender.

NSIDEN CHEONAN DAN STABILISASI KAWASAN SEMENANJUNG KOREA

INSIDEN CHEONAN

DAN STABILISASI KAWASAN SEMENANJUNG KOREA

Gorae ssaum ae saewoodung tuhjinda ( Dalam perkelahian dua ikan paus, punggung seekor udang meledak). Dan, dua Korea adalah udang yang siap meledak kapan saja.

(Rene L.Pattiradjawane)

Kronologis Insiden Cheonan

Pada 26 Maret 2010 sebuah Korvet Angkatan Laut dengan 104 awak kapal sedang patroli rutin di perairan dekat perbatasan Korea Selatan dan Korea Utara. Tiba-tiba saja terjadi ledakan dahsyat di buritan. Mesin kapal perang itu nyaris terbelah dua dan tenggelam. Kapal pemburu dan penghancur Korea Selatan yang terbelah dua dan tenggelam ini bernama Cheonan. Cheonan sendiri memiliki arti perdamaian surgawi, memiliki karakter kanji yang sama seperti Gerbang Perdamaian Surgawi Tiananmen, Beijing, China.

Korea Selatan mengutarakan kapalnya, Cheonan, ditenggelamkan oleh serangan torpedo Korea Utara Maret lalu. Sementara, Pyongyang membantah tuduhan tersebut. Ketegangan meruncing di kawasan sejak Cheonan tenggelam tanggal 26 Maret dan menewaskan 46 angkatan laut Korea Selatan. Kapal korvet Cheonan dinyatakan tenggelam ditorpedo Korut berdasarkan hasil penyelidikan secara ilmiah oleh tim gabungan Korsel, AS, Swedia, Australia, Kanada, dan Inggris. Kesimpulannya[1],

1. Cheonan tenggelam akibat ledakan bubble jet dari torpedo CHT-02D milik Korut meledak tanpa kontak ke korvet itu.

2. Cheonan kelas Pohang diyakini ditorpedo kapal selam Korut di perairan dekat Pulau Baengnyeong.

3. Kesimpulan investigasi sudah menyatakan bahwa torpedo tersebut berasal dari kapal selam Korut kelas Yeono.

4. Namun, keseluruhan proses tenggelamnya kapal korvet Cheonan masih belum jelas. Korut selama ini diduga memiliki 22 kapal selam patroli, 29 kapal selam penjaga pantai, dan 20 kapal selam mini (midget).

Korea Utara menampik semua tuduhan terlibat dalam penembakan kapal patroli Korea Selatan. Pada 28 Mei 2010,Komisi Pertahanan Nasional, yang menjadi badan politik terpenting Korea Utara, untuk pertama kalinya mengadakan konferensi pers, dimana mereka menyanggah semua tuduhan.Direktur bagian politik pada Komisi Pertahanan Nasional menyatakan, tuduhan Korea Selatan sangat berat, sehingga perang bisa pecah kapan saja.

Sebaliknya, harian-harian Korsel melaporkan bahwa bukti-bukti keterlibatan Korut sudah begitu jelas[2]. Tidak lama setelah pengumuman penyebab tenggelamnya Cheonan, Menlu AS Hillary Clinton segera terbang ke Jepang, China, dan Korsel untuk mencari dukungan agar Korut dikenai sanksi internasional melalui resolusi Dewan Keamanan PBB. Sanksi ini menjadi amunisi baru bagi AS memaksa Korut kembali ke meja perundingan untuk membahas masalah persenjataan nuklir yang dimilikinya.

Kemungkinan pecah perang baru antar Korea kembali menjadi kekhawatiran dunia. Ditambah lagi, Korut memiliki senjata nuklir sebagai pemusnah massal dan rezim di Pyongyang bisa melakukan tindakan tidak terduga. Insiden ini dipastikan akan menjadi pemicu konflik terbuka bila Dewan Keamanan PBB mengeluarkan resolusi memberikan sanksi kepada Korut yang mengatakan akan membalas aksi unilateral yang dipelopori AS, Jepang, dan Korsel ini..

Stabilisasi Kawasan Semenanjung Korea “Memanas” Kembali

Ketegangan yang terjadi di Semenanjung Korea sebenarnya tidak terlepas dari warisan sejarah yakni perang Dingin yang meninggalkan ceceran nuklir di berbagai kawasan. Penjatuhan sanksi dan ujicoba militer justru hanya semakin memperburuk situasi keamanan kawasan, munculnya wacana kemungkinan peperangan di Semenanjung Korea.

Kompeksitas kepentingan antar kepentingan di negara Semenanjung Korea jelas sekali terlihat. Kendati system internasional tidak lagi serigid ketika Perang Dingin berlangsung,dimana tampak jelas ada blok barat dan bok timur, tetapi isu “serupa” tampaknya masih bersemayam di Semenanjung Korea sekarang ini, tetapi dalam bentuk yahng lebih “cair”. Amerika Serikat, Korea Selatan, Jepang menjadi sekutu di kawasan tersbut. Dilain pihak ada China, Rusia, dan Korut. Meskipun China dan Russia tidak sepenuhnya berseberangan dengan AS dan sekutunya, tetapi mereka lebih dekat ke Korut. Korut seakan menjadi perebutan dalam menunjukkan eskalasi hegemoni di kawasan tersebut. China dan Russia lebih mengutamakan dialog ketimbang ancaman sanksi dan embargo bagi Korut (terkait Insiden ini). Kendati Korut juga terkadang menunjukkan sikap serampangan pada kedua Negara tesebut, tetapi secara keseluruhan mereka masih berada dalam satu kubu yang “cair”.

Kompetisi seakan menjadi hal yang tak terelakkan ketika masing-masing negara semakin mengembangkan powernya yang berdampak pada munculnya rasa takut dan ancaman bagi negara lain. Selain itu, sesuai dengan asumsi Realis modern yang menekankan bahwa dibawah sistem yang anarki, penting bagi negara untuk percaya pada diri sendiri, dengan gaya yang berpusat pada diri sendiri.

Banyak pihak yang berasumsi, terutama pakar militer dan keamanan mengatakan Insiden Cheonan bisa jadi hanya dalih bagi AS untuk kembali menjerat Korut untuk kembali ke meja runding demi tercapainya penutupan stasiun nuklir mereka. Insiden Cheonan dinilai aneh dan ganjil bagi beberapa kalangan karena kapasitas militer Korut yang mustahil untuk meledakkan dan menenggelamkan kapal canggih buatan Korsel. Hal ini disebabkan karena kapal buatan Korut umumnya adalah kapal tua buatan tahun 80-an. Hal ini kontras dengan kapal korsel yang dilengkapi teknologi canggih sehingga tak mungkin bagi kapal secanggih Cheonan tidak mampu mendeteksi keberadaaan kapal Korut tersebut. “Banyak yang menyamakan motif AS di Korut ini dengan insiden kapal perusak Angkatan Laut AS, USS Maddox, di Teluk Tonkin[3].

Selain itu, insiden tembakan yang terjadi di perairan perbatasan juga tampak janggal. Asumsipun bermunculan bahwa kapal AS yang melakukan latihan bersama dengan Angkatan Laut Korsel lah yang secara tidak sengaja menenggelamkan Kapal Cheonan. Hal ini semakin diperkuat karena hasil investigasi yang dilakukan oleh Korsel dikerjakan besama sekutu mereka yang tak lain antek-antek AS, seperti Australia, Inggis, Kanada dan AS sendiri. Sedangkan tim dari Russia tidak mau berasumsi dulu dan lebih mengutamakan hasil investigasi yang komprehensif.

Ini seakan membenarkan asumsi realis bahwa dengan tidak adanya struktur yang lebih tinggi dalam sistem, negara pun secara struktural tidak aman dalam menciptakan perlindungan, karenanya kekuatan militer untuk menanggulangi kemungkinan ancaman menjadi bentuk kekuatan yang paling vital. Kompetisi meningkat dengan fakta bahwa ketika suatu negara memperluas power-nya untuk menjadi lebih aman, ketakutan-ketakutan dari negara lainnyapun meningkat (security dilemma), bahwa dalam mengambil tindakan untuk menjaga keamanan, suatu pemerintahan (atau aktor lainnya) justru menciptakan reaksi-reaksi yang mengurangi keamanannya.

Belajar dari sejarah konfrontasi yang dialami oleh Amerika Serikat, penjatuhan sanksi, isolasi dan resolusi kepada pihak-pihak yang tidak sejalan dengan kepentingan nasional AS justru semakin memperburuk eskalasi konflik dan tidak menurunkan eskalasi konflik tersebut, pelajaran konfrontasi AS dengan RRC, Uni Sovyet, dan hingga saat ini yang masih berlangsung dengan Iran, Kuba, dan Korea Utara ternyata penjatuhan sanksi, isolasi dan resolusi tersebut belum mampu mengakomodir kepentingan AS.

Tak dapat dipungkiri, AS memang menjadi penggerak bagi percepatan terjadinya stabilisasi kawasan Korea Peninsula. Hanya saja dengan situasi domestic dan kondisi ekonomi yang masih carut marut membuat AS tidak “senafsu” ketika menginvasi Irak dan Afganishtan. Upaya yang dilakukan AS dari dulu adalah berupaya melalui pembicaraan diplomatic dan embargo ekonomi. Akan tetapi, ini juga sukar karena China dan Russia juga sedang membangun diri menjadi pemain utama dunia terutama di kawasan Semenanjung Korea. Insiden ini bisa semakin menjauhkan AS dari Korut dan sebaliknya semakin mendekatkan hubungan Korut-China-Russia.

Selain itu Jepang di satu sisi juga semakin membutuhkan kekuatan militer dalam menangani permasalahan ini dalam melindungi national security mereka. Kekalahan PD II membuat Jepang kehilangan armada angkatan bersenjatanya. Sehingga sengan semakin serampangannya Korut mencoba senjata nulkirnya membuat Jepang semakin terancam. Dan belakangan keinginan untuk dibentuknya kembali kekuatan pertahanan bagi Jepang menjadi isu yang telah mengemuka di muka public selain usulan menjadi anggota tetap DK PBB, demi mengembalikan kejayaaan Jepang serta memberikan ancaman bagi Korut.

Sedangkan China, jelas tidak tampak “murka” atas insiden ini. China juga tidak menhendaki kawasan Semenanjung Korea menjadi kawasan aliansi pendukung AS. Seperti yang diutarakan oleh Peter Beck “Pyongyang tahu Beijing tidak akan meninggalkan mereka meskipun mereka jelas-jelas bertindak provokatif[4]." Korea Selatan, Jepang sudah cukup bagi China menjadi penghalang dalam hegemoninya di kawasan tersebut. Belum lagi sanksi yang berlebihan bisa memicu reaksi yang tak terprediksi dari Kout yang jelas sekali akan menganggu pertumbuhan ekonomi China di kawasan. Oleh karena itu sampai sekarang, China dan Russia masih bisa dikatakan sebagai dua Negara yang belum seratus persen percaya atas hasil penyelidikan dari Korea dan antek-anteknya. Russia sendiri juga telah mengatakan masih meragukan hasil penyeldikan tersbut. Maka dari itu, China termasuk Negara yang belum mau terlibat langsung dalam pertentangan antara kedua Korea tersebut[5].

Walaupun China acap bermasalah/berang terkait arus pengungsi ekonomi dari Korut ke China, dukungan China dan Russia atas Korut jelas untuk menghalangi terbentuknya upaya “westernisasi” Semenanjung Korea yang sangat liberal sehingga akan mengancam dominasi dan perkembangan Rusia serta China di kawasan. Dan perdana Menteri China Wen Jiabao pada lawatannya dalam KTT Asia Timur menyatakan “Tugas penting saat ini adalah bagaimana menghentikan dampak kasus Cheonan, mengganti situasi ketegangan, dan menghindari konflik[6].”

Berbagai upaya pendekatan bilateral yang dilakukan terhadap Korea Utara seperti yang dilakukan AS dan Korea Selatan ternyata masih belum mampu meminimalisasi ketegangan di kawasan ini. Sikap Korea Utara yang kerap kali membangkang dari perjanjian-perjanjian yang telah disepakati membuat penyelesaian isu ini tidak pernah mengalami perkembangan yang signifikan. Situasi internasional, pasca tragedi 11 September menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi meningkatnya ketegangan perihal isu ini[7].

Dan, relik Perang Dingin di Semenanjung Korea kembali bergerak ke pola lama, dimulai dengan ancaman program persenjataan nuklir Korut, potensi konsekuensi stabilitas kawasan Asia dan kebijakan luar negeri AS untuk bisa bercokol di Asia, hingga dampak yang ditimbulkan atas upaya rekonsiliasi inter-Korea. Seperti yang diutarakan kaum Realis, komponen utama kekuatan politik adalah kekuatan militer. Distribusi power mengendalikan perilaku negara-negara. Pemerintah bekerja keras untuk secara akurat membantu distribusi power dan memahami implikasinya bagi perilaku mereka, serta mempertahankan distribusi yang pantas dan tepat bagi keamanannya.

Terkait Insiden Cheonan, saya meragukan AS akan melakukan invasi karena dampaknya yang tak kepalang tanggung. Begitu juga halnya dengan sanksi DK PBB bakal sulit terjadi berhubung hasil investigasi yang cenderung “bermotif politik”. Hal ini diakibatkan perimbangan kekuatan di kawasan yang mulai merata sehingga ada kemungkinan menghindari pertikaian (detterence).

Referensi

Patrick Morgan.2009.Security in International Politics: Traditional Approach dalam Allan Collins,Contemporary Security Studies.Oxford:Oxford University Press. Hal 13-34

Peter Kujath / Marjory Linardy. 2010. Penanganan Cheonan Penting bagi Asia Timur Laut. Diunduh melalui http://www.dw-world.de/dw/ article/0, ,5632092,00.html. [Dikases pada 2 Juni 2010]

Rene L.Pattiradjawane. 2010. Cheonan Ditorpedo AS atau Korsel. Diunduh melalui http://internasional.kompas.com/read/2010/05/31/06315567/Cheon- an.Ditorpedo.AS.atau.Korut. [Diakses pada 2 Juni 2010]

2009. Quo Vadis Six party talks. Diunduh melalui http://umum.kompasiana. com/2009/06/03 /quo-vadis-six-party-talks/. Diakses pada [2 Juni 2010]



[1]Lihat http://internasional.kompas.com/read/2010/05/31/06315567/Cheonan. Ditorpedo. AS . atau.Korut. Rene L.Pattiradjawne. 2010. Cheonan Ditorpedo AS atau Korsel [Diakses pada 2 Juni 2010]

[2] Harian Chosun llbo memberitakan bahwa pecahan baling-baling torpedo yang ditemukan dekat lokasi insiden sama persis dengan baling-baling torpedo Korut yang diperoleh Korsel tujuh tahun lalu."Nomor seri baling-baling itu ditulis dengan huruf yang biasa dipakai di Korut. Sisa bahan peledak di pecahan torpedo itu juga mirip dengan bahan peledak milik Korut," tulis Chosun llbo. Harian Dotg-a llbo memaparkan bahwa penembakan torpedo dilakukan sebuah kapal selam Korut yang berbobot 85 ton. Itu didasarkan kepada data intelijen tentang pergerakan kapal selam dan analisis rekaman komunikasi Korut. Lihat http://bataviase.co.id/node/218976 dengan judul “ Insiden Cheonan Ulah Korut”.

[3] Pada 2 Agustus 1964, Washington mengumumkan, ada tiga kapal torpedo Vietnam yang memprovokasi dan menyerang USS Maddox dan insiden Teluk Tonkin ini menyebabkan Presiden AS Lyndon B Johnson mendapat dukungan Kongres AS untuk meningkatkan intervensi militer AS di Vietnam.

[4]China yang merupakan donatur terbesar untuk Korut ingin mengurangi tingkat ketegangan di Semenanjung Korea tanpa terkesan menghukum rezim Pyongyang. Intinya adalah Pyongyang tahu Beijing tidak akan meninggalkan mereka meskipun mereka jelas-jelas bertindak provokatif," kata analis Korea dari Stanford University Peter Beck Lihat http://bataviase.co.id/node/192699. China-Korsel bahas Insiden Cheonan. Diakses pada 2 Juni 2010.

[5]Daniel Pinkston, analis International Crisis Group, di Seoul menyatakan kecil kemungkinan China akan langsung menengahi pertentangan kedua negara Korea. Soalnya keterlibatan seperti itu bisa membahayakan kepentingan nasional China sendiri. "China tidak ingin ada Korea yang bersatu di perbatasannya, sebuah Korea yang bersekutu dengan Amerika Serikat," kata Pinkston. "China yakin perselisihan antar-Korea ini akan segera berakhir. Lihat http://bataviase.co.id/node/192699.

[7]AS mengkhawatirkan kepemilikan senjata nuklir oleh Korea Utara tanpa adanya pengaturan dan pengawasan mampu mengarah kepada kepemilikan senjata nuklir oleh kelompok-kelompok teroris Korut ditetapkan oleh AS ke dalam daftar sebagai negara yang mensponsori kegiatan kelompok teroris sehingga meningkatnya ketegangan antara Korea Utara dan Amerika Serikat semakin mempersulit upaya penyelesaian krisis ini dan diperburuk dengan keluarnya Korea Utara dari NPT pada tahun 2003. Siapapun yang tidak patuh terhadap rezim nuklir dunia dianggap mampu menyuburkan gerakan-gerakan terorisme global dan perlombaan senjata seperti di kawasan Asia Timur.