Jumat, 11 Juni 2010

NSIDEN CHEONAN DAN STABILISASI KAWASAN SEMENANJUNG KOREA

INSIDEN CHEONAN

DAN STABILISASI KAWASAN SEMENANJUNG KOREA

Gorae ssaum ae saewoodung tuhjinda ( Dalam perkelahian dua ikan paus, punggung seekor udang meledak). Dan, dua Korea adalah udang yang siap meledak kapan saja.

(Rene L.Pattiradjawane)

Kronologis Insiden Cheonan

Pada 26 Maret 2010 sebuah Korvet Angkatan Laut dengan 104 awak kapal sedang patroli rutin di perairan dekat perbatasan Korea Selatan dan Korea Utara. Tiba-tiba saja terjadi ledakan dahsyat di buritan. Mesin kapal perang itu nyaris terbelah dua dan tenggelam. Kapal pemburu dan penghancur Korea Selatan yang terbelah dua dan tenggelam ini bernama Cheonan. Cheonan sendiri memiliki arti perdamaian surgawi, memiliki karakter kanji yang sama seperti Gerbang Perdamaian Surgawi Tiananmen, Beijing, China.

Korea Selatan mengutarakan kapalnya, Cheonan, ditenggelamkan oleh serangan torpedo Korea Utara Maret lalu. Sementara, Pyongyang membantah tuduhan tersebut. Ketegangan meruncing di kawasan sejak Cheonan tenggelam tanggal 26 Maret dan menewaskan 46 angkatan laut Korea Selatan. Kapal korvet Cheonan dinyatakan tenggelam ditorpedo Korut berdasarkan hasil penyelidikan secara ilmiah oleh tim gabungan Korsel, AS, Swedia, Australia, Kanada, dan Inggris. Kesimpulannya[1],

1. Cheonan tenggelam akibat ledakan bubble jet dari torpedo CHT-02D milik Korut meledak tanpa kontak ke korvet itu.

2. Cheonan kelas Pohang diyakini ditorpedo kapal selam Korut di perairan dekat Pulau Baengnyeong.

3. Kesimpulan investigasi sudah menyatakan bahwa torpedo tersebut berasal dari kapal selam Korut kelas Yeono.

4. Namun, keseluruhan proses tenggelamnya kapal korvet Cheonan masih belum jelas. Korut selama ini diduga memiliki 22 kapal selam patroli, 29 kapal selam penjaga pantai, dan 20 kapal selam mini (midget).

Korea Utara menampik semua tuduhan terlibat dalam penembakan kapal patroli Korea Selatan. Pada 28 Mei 2010,Komisi Pertahanan Nasional, yang menjadi badan politik terpenting Korea Utara, untuk pertama kalinya mengadakan konferensi pers, dimana mereka menyanggah semua tuduhan.Direktur bagian politik pada Komisi Pertahanan Nasional menyatakan, tuduhan Korea Selatan sangat berat, sehingga perang bisa pecah kapan saja.

Sebaliknya, harian-harian Korsel melaporkan bahwa bukti-bukti keterlibatan Korut sudah begitu jelas[2]. Tidak lama setelah pengumuman penyebab tenggelamnya Cheonan, Menlu AS Hillary Clinton segera terbang ke Jepang, China, dan Korsel untuk mencari dukungan agar Korut dikenai sanksi internasional melalui resolusi Dewan Keamanan PBB. Sanksi ini menjadi amunisi baru bagi AS memaksa Korut kembali ke meja perundingan untuk membahas masalah persenjataan nuklir yang dimilikinya.

Kemungkinan pecah perang baru antar Korea kembali menjadi kekhawatiran dunia. Ditambah lagi, Korut memiliki senjata nuklir sebagai pemusnah massal dan rezim di Pyongyang bisa melakukan tindakan tidak terduga. Insiden ini dipastikan akan menjadi pemicu konflik terbuka bila Dewan Keamanan PBB mengeluarkan resolusi memberikan sanksi kepada Korut yang mengatakan akan membalas aksi unilateral yang dipelopori AS, Jepang, dan Korsel ini..

Stabilisasi Kawasan Semenanjung Korea “Memanas” Kembali

Ketegangan yang terjadi di Semenanjung Korea sebenarnya tidak terlepas dari warisan sejarah yakni perang Dingin yang meninggalkan ceceran nuklir di berbagai kawasan. Penjatuhan sanksi dan ujicoba militer justru hanya semakin memperburuk situasi keamanan kawasan, munculnya wacana kemungkinan peperangan di Semenanjung Korea.

Kompeksitas kepentingan antar kepentingan di negara Semenanjung Korea jelas sekali terlihat. Kendati system internasional tidak lagi serigid ketika Perang Dingin berlangsung,dimana tampak jelas ada blok barat dan bok timur, tetapi isu “serupa” tampaknya masih bersemayam di Semenanjung Korea sekarang ini, tetapi dalam bentuk yahng lebih “cair”. Amerika Serikat, Korea Selatan, Jepang menjadi sekutu di kawasan tersbut. Dilain pihak ada China, Rusia, dan Korut. Meskipun China dan Russia tidak sepenuhnya berseberangan dengan AS dan sekutunya, tetapi mereka lebih dekat ke Korut. Korut seakan menjadi perebutan dalam menunjukkan eskalasi hegemoni di kawasan tersebut. China dan Russia lebih mengutamakan dialog ketimbang ancaman sanksi dan embargo bagi Korut (terkait Insiden ini). Kendati Korut juga terkadang menunjukkan sikap serampangan pada kedua Negara tesebut, tetapi secara keseluruhan mereka masih berada dalam satu kubu yang “cair”.

Kompetisi seakan menjadi hal yang tak terelakkan ketika masing-masing negara semakin mengembangkan powernya yang berdampak pada munculnya rasa takut dan ancaman bagi negara lain. Selain itu, sesuai dengan asumsi Realis modern yang menekankan bahwa dibawah sistem yang anarki, penting bagi negara untuk percaya pada diri sendiri, dengan gaya yang berpusat pada diri sendiri.

Banyak pihak yang berasumsi, terutama pakar militer dan keamanan mengatakan Insiden Cheonan bisa jadi hanya dalih bagi AS untuk kembali menjerat Korut untuk kembali ke meja runding demi tercapainya penutupan stasiun nuklir mereka. Insiden Cheonan dinilai aneh dan ganjil bagi beberapa kalangan karena kapasitas militer Korut yang mustahil untuk meledakkan dan menenggelamkan kapal canggih buatan Korsel. Hal ini disebabkan karena kapal buatan Korut umumnya adalah kapal tua buatan tahun 80-an. Hal ini kontras dengan kapal korsel yang dilengkapi teknologi canggih sehingga tak mungkin bagi kapal secanggih Cheonan tidak mampu mendeteksi keberadaaan kapal Korut tersebut. “Banyak yang menyamakan motif AS di Korut ini dengan insiden kapal perusak Angkatan Laut AS, USS Maddox, di Teluk Tonkin[3].

Selain itu, insiden tembakan yang terjadi di perairan perbatasan juga tampak janggal. Asumsipun bermunculan bahwa kapal AS yang melakukan latihan bersama dengan Angkatan Laut Korsel lah yang secara tidak sengaja menenggelamkan Kapal Cheonan. Hal ini semakin diperkuat karena hasil investigasi yang dilakukan oleh Korsel dikerjakan besama sekutu mereka yang tak lain antek-antek AS, seperti Australia, Inggis, Kanada dan AS sendiri. Sedangkan tim dari Russia tidak mau berasumsi dulu dan lebih mengutamakan hasil investigasi yang komprehensif.

Ini seakan membenarkan asumsi realis bahwa dengan tidak adanya struktur yang lebih tinggi dalam sistem, negara pun secara struktural tidak aman dalam menciptakan perlindungan, karenanya kekuatan militer untuk menanggulangi kemungkinan ancaman menjadi bentuk kekuatan yang paling vital. Kompetisi meningkat dengan fakta bahwa ketika suatu negara memperluas power-nya untuk menjadi lebih aman, ketakutan-ketakutan dari negara lainnyapun meningkat (security dilemma), bahwa dalam mengambil tindakan untuk menjaga keamanan, suatu pemerintahan (atau aktor lainnya) justru menciptakan reaksi-reaksi yang mengurangi keamanannya.

Belajar dari sejarah konfrontasi yang dialami oleh Amerika Serikat, penjatuhan sanksi, isolasi dan resolusi kepada pihak-pihak yang tidak sejalan dengan kepentingan nasional AS justru semakin memperburuk eskalasi konflik dan tidak menurunkan eskalasi konflik tersebut, pelajaran konfrontasi AS dengan RRC, Uni Sovyet, dan hingga saat ini yang masih berlangsung dengan Iran, Kuba, dan Korea Utara ternyata penjatuhan sanksi, isolasi dan resolusi tersebut belum mampu mengakomodir kepentingan AS.

Tak dapat dipungkiri, AS memang menjadi penggerak bagi percepatan terjadinya stabilisasi kawasan Korea Peninsula. Hanya saja dengan situasi domestic dan kondisi ekonomi yang masih carut marut membuat AS tidak “senafsu” ketika menginvasi Irak dan Afganishtan. Upaya yang dilakukan AS dari dulu adalah berupaya melalui pembicaraan diplomatic dan embargo ekonomi. Akan tetapi, ini juga sukar karena China dan Russia juga sedang membangun diri menjadi pemain utama dunia terutama di kawasan Semenanjung Korea. Insiden ini bisa semakin menjauhkan AS dari Korut dan sebaliknya semakin mendekatkan hubungan Korut-China-Russia.

Selain itu Jepang di satu sisi juga semakin membutuhkan kekuatan militer dalam menangani permasalahan ini dalam melindungi national security mereka. Kekalahan PD II membuat Jepang kehilangan armada angkatan bersenjatanya. Sehingga sengan semakin serampangannya Korut mencoba senjata nulkirnya membuat Jepang semakin terancam. Dan belakangan keinginan untuk dibentuknya kembali kekuatan pertahanan bagi Jepang menjadi isu yang telah mengemuka di muka public selain usulan menjadi anggota tetap DK PBB, demi mengembalikan kejayaaan Jepang serta memberikan ancaman bagi Korut.

Sedangkan China, jelas tidak tampak “murka” atas insiden ini. China juga tidak menhendaki kawasan Semenanjung Korea menjadi kawasan aliansi pendukung AS. Seperti yang diutarakan oleh Peter Beck “Pyongyang tahu Beijing tidak akan meninggalkan mereka meskipun mereka jelas-jelas bertindak provokatif[4]." Korea Selatan, Jepang sudah cukup bagi China menjadi penghalang dalam hegemoninya di kawasan tersebut. Belum lagi sanksi yang berlebihan bisa memicu reaksi yang tak terprediksi dari Kout yang jelas sekali akan menganggu pertumbuhan ekonomi China di kawasan. Oleh karena itu sampai sekarang, China dan Russia masih bisa dikatakan sebagai dua Negara yang belum seratus persen percaya atas hasil penyelidikan dari Korea dan antek-anteknya. Russia sendiri juga telah mengatakan masih meragukan hasil penyeldikan tersbut. Maka dari itu, China termasuk Negara yang belum mau terlibat langsung dalam pertentangan antara kedua Korea tersebut[5].

Walaupun China acap bermasalah/berang terkait arus pengungsi ekonomi dari Korut ke China, dukungan China dan Russia atas Korut jelas untuk menghalangi terbentuknya upaya “westernisasi” Semenanjung Korea yang sangat liberal sehingga akan mengancam dominasi dan perkembangan Rusia serta China di kawasan. Dan perdana Menteri China Wen Jiabao pada lawatannya dalam KTT Asia Timur menyatakan “Tugas penting saat ini adalah bagaimana menghentikan dampak kasus Cheonan, mengganti situasi ketegangan, dan menghindari konflik[6].”

Berbagai upaya pendekatan bilateral yang dilakukan terhadap Korea Utara seperti yang dilakukan AS dan Korea Selatan ternyata masih belum mampu meminimalisasi ketegangan di kawasan ini. Sikap Korea Utara yang kerap kali membangkang dari perjanjian-perjanjian yang telah disepakati membuat penyelesaian isu ini tidak pernah mengalami perkembangan yang signifikan. Situasi internasional, pasca tragedi 11 September menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi meningkatnya ketegangan perihal isu ini[7].

Dan, relik Perang Dingin di Semenanjung Korea kembali bergerak ke pola lama, dimulai dengan ancaman program persenjataan nuklir Korut, potensi konsekuensi stabilitas kawasan Asia dan kebijakan luar negeri AS untuk bisa bercokol di Asia, hingga dampak yang ditimbulkan atas upaya rekonsiliasi inter-Korea. Seperti yang diutarakan kaum Realis, komponen utama kekuatan politik adalah kekuatan militer. Distribusi power mengendalikan perilaku negara-negara. Pemerintah bekerja keras untuk secara akurat membantu distribusi power dan memahami implikasinya bagi perilaku mereka, serta mempertahankan distribusi yang pantas dan tepat bagi keamanannya.

Terkait Insiden Cheonan, saya meragukan AS akan melakukan invasi karena dampaknya yang tak kepalang tanggung. Begitu juga halnya dengan sanksi DK PBB bakal sulit terjadi berhubung hasil investigasi yang cenderung “bermotif politik”. Hal ini diakibatkan perimbangan kekuatan di kawasan yang mulai merata sehingga ada kemungkinan menghindari pertikaian (detterence).

Referensi

Patrick Morgan.2009.Security in International Politics: Traditional Approach dalam Allan Collins,Contemporary Security Studies.Oxford:Oxford University Press. Hal 13-34

Peter Kujath / Marjory Linardy. 2010. Penanganan Cheonan Penting bagi Asia Timur Laut. Diunduh melalui http://www.dw-world.de/dw/ article/0, ,5632092,00.html. [Dikases pada 2 Juni 2010]

Rene L.Pattiradjawane. 2010. Cheonan Ditorpedo AS atau Korsel. Diunduh melalui http://internasional.kompas.com/read/2010/05/31/06315567/Cheon- an.Ditorpedo.AS.atau.Korut. [Diakses pada 2 Juni 2010]

2009. Quo Vadis Six party talks. Diunduh melalui http://umum.kompasiana. com/2009/06/03 /quo-vadis-six-party-talks/. Diakses pada [2 Juni 2010]



[1]Lihat http://internasional.kompas.com/read/2010/05/31/06315567/Cheonan. Ditorpedo. AS . atau.Korut. Rene L.Pattiradjawne. 2010. Cheonan Ditorpedo AS atau Korsel [Diakses pada 2 Juni 2010]

[2] Harian Chosun llbo memberitakan bahwa pecahan baling-baling torpedo yang ditemukan dekat lokasi insiden sama persis dengan baling-baling torpedo Korut yang diperoleh Korsel tujuh tahun lalu."Nomor seri baling-baling itu ditulis dengan huruf yang biasa dipakai di Korut. Sisa bahan peledak di pecahan torpedo itu juga mirip dengan bahan peledak milik Korut," tulis Chosun llbo. Harian Dotg-a llbo memaparkan bahwa penembakan torpedo dilakukan sebuah kapal selam Korut yang berbobot 85 ton. Itu didasarkan kepada data intelijen tentang pergerakan kapal selam dan analisis rekaman komunikasi Korut. Lihat http://bataviase.co.id/node/218976 dengan judul “ Insiden Cheonan Ulah Korut”.

[3] Pada 2 Agustus 1964, Washington mengumumkan, ada tiga kapal torpedo Vietnam yang memprovokasi dan menyerang USS Maddox dan insiden Teluk Tonkin ini menyebabkan Presiden AS Lyndon B Johnson mendapat dukungan Kongres AS untuk meningkatkan intervensi militer AS di Vietnam.

[4]China yang merupakan donatur terbesar untuk Korut ingin mengurangi tingkat ketegangan di Semenanjung Korea tanpa terkesan menghukum rezim Pyongyang. Intinya adalah Pyongyang tahu Beijing tidak akan meninggalkan mereka meskipun mereka jelas-jelas bertindak provokatif," kata analis Korea dari Stanford University Peter Beck Lihat http://bataviase.co.id/node/192699. China-Korsel bahas Insiden Cheonan. Diakses pada 2 Juni 2010.

[5]Daniel Pinkston, analis International Crisis Group, di Seoul menyatakan kecil kemungkinan China akan langsung menengahi pertentangan kedua negara Korea. Soalnya keterlibatan seperti itu bisa membahayakan kepentingan nasional China sendiri. "China tidak ingin ada Korea yang bersatu di perbatasannya, sebuah Korea yang bersekutu dengan Amerika Serikat," kata Pinkston. "China yakin perselisihan antar-Korea ini akan segera berakhir. Lihat http://bataviase.co.id/node/192699.

[7]AS mengkhawatirkan kepemilikan senjata nuklir oleh Korea Utara tanpa adanya pengaturan dan pengawasan mampu mengarah kepada kepemilikan senjata nuklir oleh kelompok-kelompok teroris Korut ditetapkan oleh AS ke dalam daftar sebagai negara yang mensponsori kegiatan kelompok teroris sehingga meningkatnya ketegangan antara Korea Utara dan Amerika Serikat semakin mempersulit upaya penyelesaian krisis ini dan diperburuk dengan keluarnya Korea Utara dari NPT pada tahun 2003. Siapapun yang tidak patuh terhadap rezim nuklir dunia dianggap mampu menyuburkan gerakan-gerakan terorisme global dan perlombaan senjata seperti di kawasan Asia Timur.

KRISIS SUEZ (1956)

Krisis Suez (1956)

Seperti yang kita ketahui isu kemanan tradisonal tidak terlepas dari perkara isu-isu high-politics, yang didominasi oleh isu militer, politik dan kemanan.serta sangat mengedepankan Negara sebagai actor yang paling signifikan dalam membentuk keamanan global. Selain itu area of coverage tidak hanya melibatkan hubungan bilateral atau regional saja tetapi sudah pada konteks global. Dan krisis Suez pada 1956 merupakan contoh dari eksplanasi diatas. Sebuah krisis yang kompleks yang pernah terjadi di Timur Tengah, tetapi melibarkan actor Negara dari benua lain, mulai dari Eropa sampai Amerika Serikat yang berujung pada invasi/perang di kawasan tersebut.

Ada beberapa dugaan kenapa krisis ini bisa terjadi. Hal yang paling mengemuka diantaranya adalah Krisis Suez ini merupakan sebuah bentuk pergulatan kepentingan antara AS dan Inggris untuk mengontrol terusan Suez yang memiliki arti penting dalam jalur perdagangan. Selain itu adanya titik temu kepentingan nasional antara Inggris, Perancis, Israel dalam menjatuhkan dominasi dan pengaruh Nasser di kawasan Timur Tengah. Prancis berusaha tetap menjaga dominasi atas kolonialnya di Afrika Utara. Sedangkan Israel ingin membuka kembali pelayaran di Terusan Suez, setelah mereka diblok oleh negara-negara Arab pada perang Arab-Israel 1948. Gemercik kekisruhan krisis Suez sudah mulai terasa setelah PD II dan terbentuknya Negara Arab-Israel. Akan tetepai, nasionalisasi terusan Suez lah yang menjadi katalis meledaknya perang di kawasan tersebut.

Terusan Suez memegang peranan penting bagi kepentingan ekonomi Inggris. Situasi ekonomi dan hegemoni Inggris semakin turun setelah PD II. Mereka butuh sumber daya ekonomi baru dan kembali menata daerah kolonialnya untuk memperbaiki situasi ekonomi mereka yang kacau balau ketika meletusnya PD II. Dan Terusan Suez yang dulunya pernah mereka kuasai, membuat Inggris ingin semakin memperkuat posisinya di Timur Tengah. Dan Irak dam Mesir merupakan Negara yang dapat membantu memperkuat pengaruh Inggris di Timut Tengah. Namun, pemerintah Mesir mencabut Anglo-Egyptian Treaty of 1936, yang menandakan berakhirnya kekuasaan Inggris selama 20 tahun menguasai Terusan Suez. Disebakan Inggris tidak ingin menarik pasukannya dari Mesir, sehingga menimbulkan berbagai macam bentrok antara Mesir dan Inggris. Hal ini terus berlanjut ketika 1952, pasukan Inggris menyebabkan terbunuhnya 41 orang warga Mesir. Semangat anti-Barat semakin menguat yang menyebabkan tewasnya 11 warga Inggris di Mesir. Kejadian demi kejadian semakin mempercepat kejatuhan Raja Farouk yang merupakan antek-antek Inggris di Mesir.

Sedangkan AS memandang Mesir sebagai sekutu yang dibutuhkan dalam menanamkan pengaruhnya di Timur Tengah. Melalui CIA, AS merekayasa sebuah kudeta untuk menjatuhkan Raja Farouk pada 1952. Kemudian AS menempatkan sekelompok perwira yang dipimpin Gamal Abdul Nasser ke tampuk kekuasaan. ‘CIA membutuhkan seorang pemimpin kharismatik yang akan mampu mengalihkan sikap Anti Amerika yang semakin meningkat di wilayah tersebut.’ Ia menjelaskan, baik CIA dan Nasser memiliki kesepahaman soal Israel. Ia menempatkan prioritasnya pada pendudukan Inggris di kawasan Terusan Suez. Ketika Mesir dipimpin oleh Nasser, pertentangan antara Nasser dan Inggris terus berlanjut sehingga semakin mempersulit kepentingna Inggris di Timur Tengah dan Mesir khususnya. Mulai dari 1955-1956, Nasser banyak sekali mengeluarkan kebijakan yang membuat frustrasi Inggris di Timur Tengah. PM Inggris saat itu, Anthony Eden, sampai menyebut Nasser sebagai dikatator. Gagalnya Pakta Baghdad membuat posisi Inggris di Timur Tengah semakin melemah. Inilah kesempatan AS memperkuat kekuatannya di Timur Tengah. AS yang pada saat itu dipimpin Eisenhower, hanya memiliki teman dekat di Timur Tengah melalui Arab Saudi.

Akan tetapi,gerakan dan kebijakan Nasser yang bekejasama dngan Cekoslowakia terkait penjualan senjata cukup membuat ketidaksukaan bagi AS. Semuanya berubah ketika Mesir dibawah Nasser memulai hubungan dengan China dan mengakui Negara China, sedangkan pada saat itu AS sedang giat-gitanya mendukung Taiwan. Hal ini membuat AS marah dan akhirnya menarik dananya dari proyek pembangunan Bendungan Aswan. Nasser langsung memberikan respon terhadap situasi ini, dengan menasionalisasi Terusan Suez pada Juli 1956. Saham-saham para pemegang saham sebelumnya, semuanya dikembalikan oleh Mesir sesuai dengan harga penutupan saham di Bursa Saham Prancis.

Ada empat komponen utama dari keamanan menurut kaum Realis : melihat negara selalu disibukkan dengan urusan keamanan fisik,negara diasumsikan selalu berhubungan dengan masalah otonomi,menggunakan pembangunan nasional sebagai suatu alat untuk menjaga dan memperkuat otonomi dan keamanan negara, menganggap aturan sebagai sesuatu yang penting, aturan sebagai alat. Tampak sekali baik Inggris dan Amerika Serikat maupun Mesir bersikeras memiliki motif kuat dibalik tindakannya. Mesir sangat jelas mementingkan kemaanan fisik negaranya dari seragnan atau ancaman dari negara luar. Mesir tahu sekali bahwa Terusan Suez dapat menjadi asset dalam pembangunan nasional mereka dalam upaya meningkatkan kesejahteraan rakyatnya sekaligus memperkuat posisi tawar-menawarnya di Timur Tengah.. Maka dari itu, Nasser tanpa sungkan menasionalisasi terusan ini. Begitu juga halnya dengan AS dan Inggris yang melihat Terusan Suez sebagai alat untuk memperluas pengaruh mereka di kawasan Timur Tengah terutama dalam perihal ekonomi yang pastinya akan memperkuat sector militer mereka. Kita bias lihat betapa susahnya untuk bekerjasama ketika antara Inggris, AS dan Mesir tampak mencari dukungan negara lain untuk semkain memperkuat posisi mereka di kawasan. Kendati AS secara implisit mendukung Mesir, Mesir bersikap sebaliknya. Dia mejalin hubungan dengan RRC dan Uni Sovyet sehingga menimbulkan kegeraman bagi AS. Rendahnya tingkt bekerjasama dan saling keprcayaan ternyata berbuntut panjang di kemudian hari.

Tiga bulan setelah nasionalisasi Terusan Suez, sebuah pertemuan rahasia diselenggarakan di Sevres, di luar Paris antara Inggris, Perancis, dan Israel. Kepentingan dari pihak.kelompok ini beragam. Inggris sangat khawatir kehilangan akses ekonomi dan militer yang berdampak pada “kerajaan” mereka. Nasionalisasi Terusan Suez jelas memberikan pukulan keras bagi ekonomi Inggris dan kekuatan militer mereka di kawasan Timur tengah. Semenjak pemerintah AS tidak mendukung tindakan Inggris, maka pemerintah Inggris meneruskan melakukan intervensi militer melawan Mesir demi menghindari runtuhnya perekonomian Inggris kala itu. Hanya saja , jika Inggris melakukan aksi intervensi secara langsung, hal ini terlalu mengandung risiko tinggi dan merusak hubungan Barat-Arab. Maka dari itu, pemerintah Inggris melakukan pakta militer rahasia dengan Prancis dan Israel yang bertujuan untuk meningkatkan kembali kontrol atas Terusan Suez.

Prancis juga khawatir dengan pengaruh Nasser di Timur Tengah dan khususnya di Afrika Utara, dimana banyak koloni Prancis berada. Baik Inggris dan Perancis ingin sekali terusan ini tetap terbuka bagi saluran minyak. Israel ingin membuka terusan ini kembali bagi pelayaran kapal-kapal Israel. Selain itu juga, Israel melihat peluang untuk memperkuat daerah perbatasan selatannya serta memperlemah seperti apa yang digambarkan sebagai negara berbahaya..Disnilah letak dari miskalkulasi Inggris, yang beranggapan bahwa AS akan bergabung dengan aliansi mereka. Inggris sangat berkeyakinan dengan dekatnya hubungan Nasser dan komunis akan membuat AS terbuka dan menerima pinangan aliansi mereka. Dan pada kenyatannya itu tidak terjadi sama sekali. Kelompok ini setuju jika Israel akan menginvasi Semenanjung Sinai. Sedangkan Inggris dan Prancis akan mengintervensi kemudian dengan memisahkan pertempuran antara Israel dan Mesir, untuk kemudian menginstruksikan keduanya menarik pasukan hingga 16 km dari tepi Terusannya. Inggris dan Prancis kemudian beranggapan bahwa control Mesir atas rute yang ada sangat lemah, dan untuk itu perlu digantikan oleh manajemen Inggris-Prancis (Anglo-French).

Kompetisi menjadi hal yang tak terelakkan ketika masing-masing negara semakin mengembangkan powernya yang berdampak pada munculnya rasa takut dan ancaman bagi negara lain. Hal inilah yang dipikir oleh Inggris, Perancis, dan Israel dan juga Amerika Serikat melihat nasionalisasi terusan Suez sebagai bentuk aktualisasi Mesir dalam meningkatkan kapasitas powernya. Selain itu, sesuai dengan asumsi Realis modern yang menekankan bahwa dibawah sistem yang anarki, penting bagi negara untuk percaya pada diri sendiri, dengan gaya yang berpusat pada diri sendiri. Dengan tidak adanya struktur yang lebih tinggi dalam sistem, negara pun secara struktural tidak aman dalam menciptakan perlindungan, karenanya kekuatan militer untuk menanggulangi kemungkinan ancaman menjadi bentuk kekuatan yang paling vital. Kompetisi meningkat dengan fakta bahwa ketika suatu negara memperluas power-nya untuk menjadi lebih aman, ketakutan-ketakutan dari negara lainnya pun meningkat → security dilemma → bahwa dalam mengambil tindakan untuk menjaga keamanan, suatu pemerintahan (atau aktor lainnya) justru menciptakan reaksi-reaksi yang mengurangi keamanannya.

Bagi Realis, komponen utama kekuatan politik adalah kekuatan militer. Distribusi power mengendalikan perilaku negara-negara. Pemerintah bekerja keras untuk secara akurat membantu distribusi power dan memahami implikasinya bagi perilaku mereka, serta mempertahankan distribusi yang pantas dan tepat bagi keamanannya. Inilah yang dilakuan oleh Inggris, Perancis, dan Israel ketika mereka sepakat mendahulukan kekuatan militer untuk menyerang Mesir sebagai sebuah bentuk aliansi demi mencapai perimbangan kekuatan di kawasan teursan Suez. Dan pada akhirnya jalan peranglah yang diambil demi mengamankan power dan kepentingan nasional masing-masing. Kendati demikian tindakan sepihak dari ketiga Negara mendaapt tantangan keras di Majelis Umum PBB dan para anggota DK PBB. Setelah Israel menusai Sinai pada 5 november dengan bantan Inggris dan Perancis, kecaman terhadap tindakan ketiga negara semakin keras. Setelah menempuh lobi dan desakan yang keras, akhirnya ketiga negara ini bersedia mundur dari Sinai dan digantikan dengan pasukan UNEF atas bentukan PBB demi mengamankan kondisi Sinai pasca perang.

Beberapa analis berpendapat bahwa suatu perang besar atau periode peperangan dibutuhkan untuk menciptakan suatu struktur kekuatan yang baru. Mungkin Krisis Suez tidak bisa dikategorikan perang besar seperti PD I dan II, tetapi dampaknya memang signifikan bagi stabilisasi kawasan Timur Tengah dan bagi Inggis sendiri. Pihak Arab semakin menyadari bahaya ancaman militerisme Israel. Sedang pihak Israel sendiri semakin enggan memberi konsesi, karena kejayaan militernya menjadi semakin keras dan semakin susah untuk diatasi. Bersamaan dengan itu, peristiwa Suez yang telah menjatuhkan penilaian dunia Arab terhadap Inggris dan Perancis, telah memperkuat posisi Uni Soviet di kawasan itu.

Amerika Serikat juga melancarkan tekanan finansial terhadap Britania Raya untuk mengakhiri invasi. Eisenhower memerintahkan George M. Humphrey untuk menjual bagian dari "US Government's Sterling Bond holdings". Pemerintah AS memegangnya sebagai bagian dari bantuan ekonomi terhadap Inggris setelah Perang Dunia II, dan pembayaran sebagian hutang Inggris kepada AS, dan juga bagian dari Rencana Marshall untuk membangun kembali ekonomi Eropa Barat. Arab Saudi juga memulai embargo minyak terhadap Britania dan Perancis. AS menolak membantu minyak bumi hingga Inggris dan Perancis setuju untuk mundur. Negara NATO lainnya juga menolak untuk menjual minyak bumi yang mereka terima dari negara-negara Arab ke Britania atau Perancis.

Krisis Suez merupakan bukti bahwa kompetisi (akibat system yang anarki) semakin membuat Negara meningkatkan kekuatan relative lainnya. Hal ini ditempuh melalui ekspansi militer dengan “force” dalam upaya meningkatkan dan mempeluas wilayah, ekonomi (kekayaan) serta populasi.

Kamis, 22 April 2010

THE READER'S SQUAD (2010)


INILAH PARA "THE READER" BPH HIMA FISIP UNPAD
PERIODE 2010-2011

(THE READER = RESEARCH DEPARTMENT)




SOLPAMILI "SOLPA' PRATAMA/ HEAD OF" THE READER" (HI 2007)





ALPINALLIAH "ALPIN" RACHMIJATI (HI 2009)




"DENNY" INDRA SUKMAWAN (HI 2009)





"DHILA" IBTIDA (HI 2009)




"DIAN" EKA NOVITA (HI 2009)





"GEDE" ADHYSMA KRISHNA (HI 2008)




VERILIANI "RINI" WINDIASARI (HI 2008)



RIZKI "EMON" MAULANA RACHMAN (HI 2008)




"LILLY" RUNTUKAHU (HI 2008)






LET'S DO THIS YEAR
WITH EXTREMELY REMARKABLE ,OUTSTANDING, FUN-LOVING, PROGRAM!!!!!

KEEP UR SPIRIT BUDDY!!!

MOHON MAAF KALAU FOTO2 NYA DIAMBIL SECARA RAHASIA.......WHAHAHAAHAH


















Kamis, 15 April 2010

CANNES LINE-UP 2010 ANNOUNCED




CANNES LINE-UP 2010 ANNOUNCED


Giant names in world cinema will be in attendance at this year's Cannes Film Festival, after the line-up was announced today. The already announced Robin Hood from Ridley Scott will be joined by films from Kitano, Kiarostami, Iñárritu, Leigh, Godard, Nakata and many more.

While the appointment of Tim Burton as Jury president might have indicated a populist move for the Festival, the line-up of directors is defiantly light on big American names, most of which are left outside the Competition section; Doug Liman's probably the biggest American name in the selection. But there are giants of world cinema in there, with Takeshi Kitano's Outrage, Abbas Kiarostami's Copie Conforme, Jean-Luc Godard's Film Socialisme and Alejandro González Iñárritu's Biutiful.

Out of competition, Woody Allen's You Will Meet A Tall Dark Stranger, Oliver Stone's Wall Street: Money Never Sleeps and Stephen Frears' Tamara Drewe will also be playing.

The full list is below. The Festival runs from May 12 to 23. For more thoughts on the line-up, check out our Cannes guru Damon Wise's reactions just over here.

Opening film
Ridley Scott – ROBIN HOOD (Out of Competition)

In Competition
Mathieu Amalric – TOURNÉE
Xavier Beauvois – DES HOMMES ET DES DIEUX
Rachid Bouchareb – HORS LA LOI
Alejandro González Iñárritu – BIUTIFUL
Mahamat-Saleh Haroun – UN HOMME QUI CRIE (A Screaming Man)
IM Sangsoo – HOUSEMAID
Abbas Kiarostami – COPIE CONFORME
Takeshi Kitano – OUTRAGE
Lee Chang-dong – POETRY
Mike Leigh – ANOTHER YEAR
Doug Liman – FAIR GAME
Sergei Loznitsa – YOU. MY JOY
Daniele Luchetti – LA NOSTRA VITA
Nikita Mikhalkov – UTOMLYONNYE SOLNTSEM 2
Bertrand Tavernier – LA PRINCESSE DE MONTPENSIER
Apichatpong Weerasethakul – LOONG BOONMEE RALEUK CHAAT
(Uncle Boonmee Who Can Recall His Past Lives)

Un Certain Regard
Derek Cianfrance – BLUE VALENTINE (1st film)
Manoel De Oliveira – O ESTRANHO CASO DE ANGÉLICA (Angelica)
Xavier Dolan – LES AMOURS IMAGINAIRES (Heartbeats)
Ivan Fund, Santiago Loza – LOS LABIOS
Fabrice Gobert – SIMON WERNER A DISPARU… (1st film)
Jean-Luc Godard – FILM SOCIALISME
Christoph Hochhäusler – UNTER DIR DIE STADT (The City Below)
Lodge Kerrigan – REBECCA H. (RETURN TO THE DOGS)
Ágnes Kocsis – PÁL ADRIENN (Adrienn Pál)
Vikramaditya Motwane – UDAAN (1st film)
Radu Muntean – MARTI, DUPA CRACIUN (Tuesday, After Christmas)
Hideo Nakata – CHATROOM
Cristi Puiu – AURORA (Aurora)
Hong Sangsoo – HA HA HA
Oliver Schmitz – LIFE ABOVE ALL
Daniel Vega – OCTUBRE (1st film)
David Verbeek – R U THERE
Xiaoshuai Wang – RIZHAO CHONGQING (Chongqing Blues)

Out of Competition
Woody Allen – YOU WILL MEET A TALL DARK STRANGER
Stephen Frears – TAMARA DREWE
Oliver Stone – WALL STREET - MONEY NEVER SLEEPS

Midnight Screenings
Gregg Araki – KABOOM
Gilles Marchand – L'AUTRE MONDE (Blackhole)

Special Screenings
Charles Ferguson – INSIDE JOB
Sophie Fiennes – OVER YOUR CITIES GRASS WILL GROW
Patricio Guzman – NOSTALGIA DE LA LUZ (Nostalgia For The Light)
Sabina Guzzanti – DRAQUILA – L'ITALIA CHE TREMA
Otar Iosseliani – CHANTRAPAS
Diego Luna – ABEL (1st film)

Helen O'Hara


SUMBER :

http://www.empireonline.com/news/story.asp?NID=27596

Selasa, 13 April 2010

KLAUSULA CALVO dan DOKTRIN DRAGO

Klausula Calvo

Klausula yang dikaitkan dengan nama seorang sarjana Argentina ini menetapkan bahwa penerima konsesi melepaskan perlindungan pemerintahnya dalam sengketa yang timbul dari perjanjian tersebut, dan bahwa sengketa yang timbul dari perjanjian tersebut harus diajukan ke lembaga peradilan nasional Negara pemberi konsesi dan tunduk pada hukum nasional Negara tersebut. Klausula ini pada suatu waktu sering dimasukkan dalam kontrak-kontrak antara pemerintah-pmerintah negara Amerika Tengah dan Selatan dan perusahaan-perusahaan asing atau orang-orang yang memperoleh konsesi-konsesi ataupu hak-hak lain yang diberikan berdasarkan kontrak-kontrrak tersebut. Menurut klausula ini konsesioner asing melepaskan perlindungan atau bantuan dari pemerintah negara asalnya dalam setiap persoalan yang muncul dari kontrak. Contoh kasusnya diantara lain: North American Dredging Co Case dihadapan United States Mexico General Claims Comissions.

Tujuan dari klausula ini untuk menjamin bahwa sengketa-sengketa hukum yang timbul dari kontrak akan dilimpahkan kepada pengadilan-pemgadilan setempat dari negara yang memberikan konsesi atau hak-hak lain dan untuk menghapus yurisdiksi pengadilan-pengadilan arbitrase internasional atau untuk mencegah permintaan tindakan diplomatik kepada negara asal perusahaan atau individu yang menikmati konsesi-konsesi itu dan lain-lain. Klausula itu dimasukkan dala sejumlah besar kontrak dengan negara-negara Amerika Latin karena dalam banyak kejadian dengan dalih yang lemah saja perusahaan-perusahaan atau orang-orang yang memperoleh konsesi di negara-negara ini akan meminta intervensi pemerintah-pemerintah asal mereka untuk melindungi kepentingan-kepentingan mereka tanpa mencari jalan penyelesaian sebagaimana yang disediakan dalam pengadilan-pengadilan nasional lokal.

Ada beberapa keputusan yang bertentangan yang dikeluarkan oleh pengadilan-pengadilan arbitrase internasional mengenai legalitas Klausula Calvo tersebut. Dalam sejumlah kasus klausula itu telah dinyatakan batal atas dasar bahwa seorang individu tidak dapat memperjanjikan hak pemerintahnya untuk melindunginya. Sedangkan dalam kasus lain, para arbitrator telah memperlakukan klausula tersebut sebagai suatu yang sah berlaku dan sebagai hal yang menghalangi klaim yang diajukan ke hadapan mereka. Dua hal diatas tecermin dari dua kasus berikut ini. Pertama, pada kasus North American Dsredging, United States-Mexico General Clims Comissions menolak tuntutan dengan alasan bahwa menurut klausula perjanjian adalah kewajiban perusahaan yang mengajukan klaim untuk memakai bentuk penyelesaian yang ada berdasrkan undang-undang Meksiko dan bedasarkan fakta perusahan yang terkait tidak pernah menggunakan prosedur ini. Keputusan ini diterima oleh pemerintah Inggris sebagai sebuah kaidah hukum yang tepat. Di lain pihak, dalam kasus El Moro Mining and R Ly Co ltd, dimana klausula Calvo dipakai sebagai alasan pembelaan, British Mexican Genaral Claims Comissions telah menolak untuk menghapuskan perkara arena perusahaan yang mengajukan klaim itu sebelumnya telah mengajukan perkara yang sama di pengadilan Meksiko, dan sembilan bulan berlalu tanpa ada pemeriksan perkara. Oleh karena itu, tidak dapat dikatakan bahwa perusahaan yang mengajukan klaim telah berusaha untuk menghindari yurisdiksi lokal.

Pokok inti dari klasula calvo dapat diringkas sebagai berikut:

  1. Sejauh klasula tersebut berusaha untuk mengahapus secara umum hak berdaulat suatu negara untuk melindungi warga negaranya maka klausula tersebut dianggap batal.
  2. Mengutip pernyataan pemerintah Inggris, “Tidak ada peratuaran untuk mencegah pencantuman suatu syarat dalam kontrak bahwa dalam segala masalah yang menyangkut kontrak, yurisdiksi dari pengadilan-pengadilan lokal adalah lengkap dan eksklusif. Dengan perkataan lain jelas tidak pantas bagi individu untuk menganggap negara terhadap mana ia meminta ganti rugi sebagai negara yang berkedudukan lebih rendah dan tidak dapat dipercaya dan minta campur tangan pemerintahnya tanpa mengajukan suatu klaim di pengadilan-pengadilan lokal.
  3. Apabila suatu syarat demikian bertujuan untuk mengikat pemerintah pihak yang mengajukan klaim untuk tidak campur tangan dalam kaitan pelangggaran nyata hukum internasioanl, maka klasula tersebut batal.

Bisa dikataka klausula calvo tidak berlaku untuk menghalangi hak-hak negara untuk melindungi warga mereka di luar negeri atau untuk melepaskan negara-negara dari kewajiban mereka untuk melindungi orang-orang asing di wilayah mereka.Menurut hukum internasional ‘Calvo clause’ ini dapat dibenarkan bila dimaksudkan agar penerima konsesi itu menggunakan peradilan Negara yang bersangkutan sebelum campur tangan negaranya. Namun bila dimaksudkan untuk menghapus hak Negara dalam melindungi warganegaranya atau pun untuk mengikat Negara lain agar tidak campur tangan atas pelanggaran hukum internasional, menurut hukum internasional klausula itu adalah batal.

Doktrin drago

Doktrin Drago, yang disebut sesuai dengan nama menteri luar negeri Argentina, yang diutarakan pada tahun 1902 ini, mengatakan bahwa negara tidak terikat kewjiban untuk menggunakan tindakan pemaksaan seperti tindakan militer terhadap suatu negara debitor yang lalai. Doktrin ini dimaksudkan untuk diterapkan demi mendukung kepentingan negara-negara Amerika Tengah dan Selatan yang merupakan akibat wajar dari Doktrin Monroe, karenanya dalam bentuknya yang paling akhir, Doktrin Drago ini menentukan bahwa hutang-hutang publik negara–negara Amerika tidak dapat menjadi alasan intervensi bersenjata juga tidak menjadi alasan bagi okupasi nyata wilayah bangsa-bangsa Amerika oleh kekuatan Eropa. Penolakan-penolakan Drago pada prinspnya terbatas pada penggunaan kekuatan senjata dalam penagihan utang-utang negara; ia tidak menentang langsung pada intervensi diplomatik atau tuntutan-tuntuan di pengadilan-pengadilan internasional.

Hal diatas diperkuat melalui Konvensi The Hague untuk membatasi penggunaan kekerasan guna pemenuhan hutang-hutang kontrak, menentukan bahwa negara-negara peserta konvensi tidak akan menggunakan kekuatan senjata untuk meminta pemenuhan hutang-hutang kontrak yang menjadi hak warga negara mereka oleh negara lain,kecuali apabila negara yang bersangkutan telah menolak untuk menerima arbitrase atau untuk tunduk pada suatu keputusan arbitrase.

KEBERADAAN (EKONOMI) CHINA DI AFRIKA

Keberadaan Cina di Afrika

Kebangkitan ekonomi Cina telah membuat geger seluruh belahan dunia. Ada yang sangat bersyukur dan ada pula yag lebih banyak merasa dirugikan. Gegap gempita ekonomi Cina mampu meluluh-lantakan industri dari Barat. Barang-barang Cina yang murah ternyata mampu membuat rakyat Amerika dapat menghemat pengeluaran mereka mencapai $100 milyar. Negara-negara Afrika juga kebagian rezeki dari ekspansi Cina ke benua hitam tersebut. Total perdagangan Cina dengan Afrika diperkirakan telah mencapai angka $50 milyar.

Sebagai negara non-demokrasi Cina tidaklah begitu mementingkan atau memeang tanggung jawab yang besar dalam penyelesaian konflik sektarian dan kasus HAM di Afrika karena Cina sendiri oleh kebanyakan negara Barat juga mencerminkan pemerintahan yang otoriter. Atas aksi Cina di Afrika yang makin menguat, membuat Eropa dan Amerika geram. Mereka menuntut Cina agar lebih transparan dalam memberikan bantuan atau bekerjasama bagi Afrika. Mereka menuntut Cina juga ikut berperan aktif dalam menciptakan situasi yang kondusif dan demokratis di Afrika. Barat mengkritik Cina karena bantuan dan proyek kerjasama dari Cina banyak yang disalahgunakan dalam alokasi bujet oleh negara penerima bantuan tersebut. Cina dianggap tidak memiliki perhatian yang serius dalam menciptakan pemerintahan yang bersih di Afrika.

Kuatnya peran Cina di Afrika disebabkan oleh tingginya kebutuhan Cina akan energi bahan bakar untuk menunjang pertumbuhan industri di negara tersebut. Walaupun saat sekarang ini Cina sudah mulai mengembangkan nuklir,pembangkit listrik tenaga surya,dan kincir angin bahkan pembangunan DAM Three Georges yang akan mendapat sebutan sebagai bendungan terbesar di dunia ternyata itu semua belum mencukupi dahaga 1,3 milyar Cina akan kebutuhan energi terutama listrik. Menurut survey terakhir, setidaknya saat ini terdapat 150 juta keluarga berpenghasilan menengah di Cina saat ini, dimana pemakaian akan komputer dan alat elektronik semakain meningkat pesat seiring bertambahnya pendapatan penduduk Cina.

Efek yang ditimbulkan dari investasi Cina di Afrika menyebabkan benua hitam itu semakin ketergantungan akan “tindakan baik” Cina itu. Di negara seperti Kenya,Angola,Sudan telah banyak muncul gedung pencakar langit baru akibat pendapatan yang melimpah dari pengolahan minyak berkat investasi dari Cina. Rakyat di Afrika sendiri juga mengkhawatrikan dampak dari investasi Cina tersebut. Hal ini disebabkan Afrika belum menjadi sasaran utama dari investasi dunia terutama akibat tidak stabilitasnya kondisi politik dan banyaknya pelanggaran HAM. Hanya Cina yang berekspansi besar-besaran di benua tersebut sehingga ditakutkan dominasi Cina akan semakin luas menguasai sumber daya alam di benua tersebut. Tindakan Cina menuai kritk terutama dari Uni Eropa. Cina dianggap semakin memperkeruh rezim otoriter di benua tersebut karena investasi Cina banyak disalahgunakan oleh para pemimpin di negara yang bersangkutan untuk keperluaan yang mencurigakan. Selain itu tumbuh suburnya korupsi juga menjadi tudingan berikutnya. Uni Eropa berpendapat tidak mungkin Cina tidak mengetahui permasalahan di Afrika saat ini.

SEKILAS TENTANG PERKEMBANGAN EKONOMI CHINA

Ekonomi Cina

Cina mencirikan ekonominya sebagai Sosialisme dengan ciri Cina. Sejak akhir 1978, kepemimpinan Cina telah memperharui ekonomi dari ekonomi terencana Soviet ke ekonomi yang berorientasi-pasar tapi masih dalam kerangka kerja politik yang kaku dari Partai Komunis. Untuk itu para pejabat meningkatkan kekuasaan pejabat lokal dan memasang manajer dalam industri, mengijinkan perusahaan skala-kecil dalam jasa dan produksi ringan, dan membuka ekonomi terhadap perdagangan asing dan investasi. Kearah ini pemerintah mengganti ke sistem pertanggungjawaban para keluaga dalam pertanian dalam penggantian sistem lama yang berdasarkan penggabunggan, menambah kuasa pegawai setempat dan pengurus kilang dalam industri, dan membolehkan pelbagai usahawan dalam layanan dan perkilangan ringan, dan membuka ekonomi pada perdagangan dan pelabuhan asing. Pengawasan harga juga telah dilonggarkan. Ini mengakibatkan Cina daratan berubah dari ekonomi terpimpin menjadi ekonomi campuran.

Pemerintah RRC tidak suka menekankan kesamarataan saat mulai membangun ekonominya, sebaliknya pemerintah menekankan peningkatan pendapatan pribadi dan konsumsi dan memperkenalkan sistem manajemen baru untuk meningkatkan produktivitas. Pemerintah juga memfokuskan diri dalam perdagangan asing sebagai kendaraan utama untuk pertumbuhan ekonomi, untuk itu mereka mendirikan lebih dari 2000 Zona Ekonomi Khusus (Special Economic Zones, SEZ) di mana hukum investasi direnggangkan untuk menarik modal asing. Hasilnya adalah PDB yang berlipat empat sejak 1978. Pada 1999 dengan jumlah populasi 1,25 milyar orang dan PDB hanya $3.800 per kapita, Cina menjadi ekonomi keenam terbesar di dunia dari segi nilai tukar dan ketiga terbesar di dunia setelah Uni Eropa dan Amerika Serikat dalam daya beli. Pendapatan tahunan rata-rata pekerja Cina adalah $1.300. Perkembangan ekonomi Cina diyakini sebagai salah satu yang tercepat di dunia, sekitar 7-8% per tahun menurut statistik pemerintah Cina. Ini menjadikan Cina sebagai fokus utama dunia pada masa kini dengan hampir semua negara, termasuk negara Barat yang mengkritik Cina, ingin sekali menjalin hubungan perdagangan dengannya. Cina sejak tanggal 1 Januari 2002 telah menjadi anggota Organisasi Perdagangan Dunia.

Cina daratan terkenal sebagai tempat produksi biaya rendah untuk menjalankan aktivitas pengilangan, dan ketiadaan serikat sekerja amat menarik bagi pengurus-pengurus perusahaan asing, terutama karena banyaknya tenaga kerja murah. Pekerja di pabrik Cina biasanya dibayar 50 sen - 1 dolar Amerika per jam (rata-rata $0,86), dibandingkan dengan $2 sampai $2,5 di Meksiko dan $8.50 sampai $20 di AS. Buruh-buruh RRC ini seringkali terpaksa bekerja keras di kawasan berbahaya dan mudah ditindas majikan karena tiada undang-undang dan serikat sekerja yang bisa melindungi hak mereka.

Pada akhir 2001, tarif listrik rata-rata di Provinsi Guangdong adalah 0,72 yuan (9 sen Amerika) per kilowatt jam, lebih tinggi dari level rata-rata di Cina daratan 0,368 yuan (4 sen AS). Cina resmi menghapuskan "direct budgetary outlays" untuk ekspor pada 1 Januari 1991. Namun, diyakini banyak produsen ekspor Cina menerima banyak subsidi lainnya. Bentuk subsidi ekspor lainnya termasuk energi, bahan material atau penyediaan tenaga kerja. Ekspor dari produk agkrikultur, seperti jagung dan katun, masih menikmati subsidi ekspor langsung. Namun, Cina telah mengurangi jumlah subsidi ekspor jagung pada 1999 dan 2000.

Biaya bahan mentah yang rendah merupakan satu lagi aspek ekonomi Cina. Ini disebabkan persaingan di sekitarnya yang menyebabkan hasil berlebihan yang turut menurunkan biaya pembelian bahan mentah. Ada juga pengawasan harga dan jaminan sumber-sumber yang tinggal dari sistem ekonomi lama berdasarkan Soviet. Saat negara terus menswastakan perusahaan-perusahaan miliknya dan pekerja berpindah ke sektor yang lebih menguntungkan, pengaruh yang bersifat deflasi ini akan terus menambahkan tekanan keatas harga dalam ekonomi.Insentif pajak "preferensial" adalah salah satu contoh lainnya dari subsidi ekspor. Cina mencoba mengharmoniskan sistem pajak dan bea cukai yang dijalankan di perusahaan domestik dan asing. Sebagai hasil, pajak "preferensial" dan kebijakan bea cukai yang menguntungkan eksportir dalam zona ekonomi spesial dan kota pelabuhan telah ditargetkan untuk diperbaharui.

Ekspor Cina ke Amerika Serikat sejumlah $125 milyar pada 2002; ekspor Amerika ke Cina sejumlah $19 milyar. Perbedaan ini desebabkan utamanya atas fakta bahwa orang Amerika mengkonsumsi lebih dari yang mereka produksi dan orang Cina yang dibayar rendah tidak mampu membeli produk mahal Amerika. Amerika sendiri membeli lebih dari yang dibuatnya dan sekalipun rakyat RRC ingin membeli barangan buatan Amerika, mereka tidak dapat berbuat demikian karena harga barang Amerika terlalu tinggi. Faktor lainnya adalah pertukaran valuta yang tidak menguntungkan antara Yuan Cina dan dolar AS yang di"kunci" karena RRC mengikatkannya kepada kadar tetap 8 renminbi pada 1 dolar. Pada 21 Juli 2005, Bank Rakyat Cina mengumumkan untuk membolehkan mata uang renminbi ditentukan oleh pasaran, dan membolehkan kenaikan 0,3% sehari. . Ekspor Cina ke Amerika Serikat meningkat 20% per tahun, lebih cepat dari ekspor AS ke Cina. Dengan penghapusan kuota tekstil, RRC sudah tentu akan menguasai sebagian besar pasaran baju dunia. [3], [4]

Pada 2003, PDB Cina dari segi purchasing power parity mencapai $6,4 trilyun, menjadi terbesar kedua di dunia. Menggunakan penghitungan konvensional Cina diurutkan di posisi ke-7. Meski jumlah populasinya sangat besar, ini masih hanya memberikan PNB rata-rata per orang hanya sekitar $5.000, sekitar 1/7 Amerika Serikat. Laporan pertumbuhan ekonomi resmi untuk 2003 adalah 9,1%. Diperkirakan oleh CIA pada 2002 bahwa agrikultur menyumbangkan sebesar 14,5% dari PNB Cina, industri dan konstruksi sekitar 51,7% dan jasa sekitar 33,8%. Pendapatan rata-rata pedesaan sekitar sepertiga di daerah perkotaan, sebuah perbedaan yang telah melebar di dekade terakhir.

Pada tahun 1978 total panjang jalan raya di Cina hanya 89.200 km, dan pada tahun 2002 meningkat tajam menjadi 170.000 km. Pada tahun 1988, jalan tol pertama dibuka dengan total panjang 185 km, sementara pada tahun 2001 sudah mencapai 19.000 km. Untuk pelabuhan, setidaknya saat ini Cina memiliki 3.800 pelabuhan angkut, 300 di antaranya dapat menerima kapal berkapasitas 10.000 MT. Tahun 2001, Cina menghasilkan tenaga listrik sebesar 14,78 triliun kwh. Dan, direncanakan pada tahun 2009, Cina bakal mengoperasikan PLTA terbesar di dunia yang menghasilkan tenaga listik sebesar 84,7 triliun kwh. Sementara, untuk saluran telepon (fixed line), pada tahun 2002 Cina memiliki 207 juta sambungan. Padahal, tahun 1989 hanya ada 5,68 juta sambungan. 
 
Sebuah studi terakhir menunjukkan bahwa negara-negara berkembang di Asia Timur membutuhkan lebih dari 200 miliar dolar AS per tahunnya selama 2006-2010 untuk membangun infrastrukturnya. Dari total kebutuhan tersebut, sebagian besar (80%) merupakan kebutuhan Cina dalam membangun infrastruktur (lihat, misalnya, mega proyek Three Gorges Dam, Kereta Api Super Cepat Beijing-Shanghai, dan sebagainya). 

Oleh karena ukurannya yang amat luas dan budaya yang amat panjang sejarahnya, RRC mempunyai tradisi sebagai sebuah negara penguasa ekonomi. Dalam kata Ming Zeng, profesor pengurus di Shanghai,

Dalam sebagian statistik, pada pengujung abad ke 16 sekalipun, RRC mempunyai sepertiga PDB. Amerika Serikat yang gagah pada masa kini hanya mempunyai 20%. Jadi, jika Anda membuat perbandingan sejarah ini, tiga atau empat ratus tahun terdahulu, Cina tentulah kuasa terbesar dunia. Percobaan mewujudkan kembali keadaan yang membanggakan ini sudah tentu adalah salah suatu tujuan orang Tionghoa”[1].

Maka tidak mengherankan fenomena kebanjiran orang bukan Tionghoa dunia yang lain mau mempelajari Bahasa Tionghoa ini dan kegeraman Amerika dan Barat terhadap Cina secara umum terjadi pada skenario politik dunia pada hari ini.

Akan tetapi, jurang pengagihan kekayaan di antara pesisiran pantai dan kawasan pendalaman Cina masih amat besar. Untuk menandingi keadaan yang berpotensi mengundang bahaya ini, pemerintah melaksanakan strategi Pembangunan Cina Barat pada tahun 2000, Pembangunan Kembali Cina Timur Laut pada tahun 2003, dan Kebangkitan Kawasan Cina Tengah pada tahun 2004, semuanya bertujuan membantu kawasan pedalaman Cina turut membangun bersama.

MY NAME IS KHAN : REVIEW


MY NAME IS KHAN (2010) : REVIEW

Synopsis:
Bercerita tentang Rizwan Khan(Shahrukh Khan), seorang muslim yang berasal dari Mumbai, India. Sejak kecil ia menderita Asperger's Syndrome, sebuah sindrom sejenis autis tapi dalam versi yang lebih parah. Rizwan kecil tinggal bersama ibu dan adiknya, ketika beranjak dewasa sang adik yang sering merasa iri dengan Rizwan karena mendapat perhatian lebih dari sang ibu akhirnya memutuskan untuk melanjutkan sekolah di Amerika. Beberapa tahun setelah kepergian sang adik, ibunya meninggal dunia. Mau tidak mau Rizwan pun menyusul sang adik ke Amerika. Disana ia bertemu dengan pujaan hatinya bernama Mandira (Kajol) yang seorang janda beranak satu. Dan dimulai lah hari-hari Rizwan di Amerika.

Awalnya kehidupan Rizwan di Amerika memang berjalan baik-baik saja, namun semua berubah ketika pesawat yang dibajak teroris menabrak gedung WTC sampai runtuh berkeping-keping, kita mengenalnya dengan sebutan 9/11. Ketika peristiwa 9/11 terjadi, Rizwan dan Mandira mulai menghadapi beberapa kesulitan. Hingga suatu ketika sebuah tragedi memaksa mereka untuk berpisah. Rizwan pun harus berjuang untuk mendapatkan istrinya kembali, walau harus melewati sejumlah petualangan diberbagai negara bagian di Amerika.

Review:
Screenplay : Bisa dikatakan My Name Is Khan adalah semacam road-movie dari kisah seorang Rizvan Khan. Perjalanan panjangnya untuk memenuhi janjinya kepada istrinya dibuktikan dengan sungguh-sungguh oleh Rizvan Khan. Terlihat disini, sutradara dan penulis scenario ingin benar-benar menggali lebih dalam isu terorisme secara personal. Melalui sifatnya yang polos Khan seakan berusaha menyihir dan menginspirasi berbagai macam sinis dan skeptic yang telah melanda masyarakat Amerika sejak tragedy 9/11. Mulai dari penjaga hotel yang seorang Hindu, Mamy Janet yang seorang kulit hitam (Kristen), sepasang suami-istri (muslim) penumpang bus, kumpulan para “jihad” di sebuah masjid, pria muslim penjual barang elektronik, reporter PBC yg seorang Sikh dan bagi keluarganya sendiri dan masyarakat Amerika secara keseluruhan. Namun, sayang sekali, butuh waktu lama bagi sang sang istri untuk menerima identitas Khan setelah kematian anaknya, Sameer.

Shibani Bhatija dan Nirenjar Iyengar selaku penulis kenario cenderung menggambarkan dunia sebagai sesuatu yang hitam-putih, seperti dialog antara Khan dan ibunya semasa kecil. Bahwa di dunia ini Cuma ada dua manusia yaitu baik dan buruk. Dan ide ini berimplikasi pada keseluruhan cerita. Karakter Khan yang polos, jujur dan straight to the point seakan-akan ditampilkan terlalu baik dalam kondisi dunia yang brutal setelah tragedy WTC. Tidak ada skeptisme dan sinisme dalam dirinya dalam memandang identitas orang lain kendati dia sendiri bukanlah tipikal orang yang terbuka dan akrab dengan orang baru. Karakter Khan sangat “ good human being”. Melalui karakter Khan kita disodorkan cara pandang seorang “netral” yang tidak terkontaminasi akan emosi dan aliran pemikiran ekstrem. Backdrop karakter dimana Khan seorang Asperger tampak tidak sekedar tempelan saja karena memperkuat identitas Khan itu sendiri. Cara pandang Khan akan dunia merupakan sebuah nilai yang cukup menggetarkan hati siapapun.

Mungkin sebagian dari kita bakal mempertanyakan sikap Khan yang pantang menyerah dan sangat menurut perintah istrinya yang mendasar perjalanannya menemui presiden AS. Kepolosannya sangat meningatkan saya akan karakter Forrest Gump di film Forrest Gump (1994). Kendari menderita asperger syndromes, Khan merupakan tipikal orang yang sangat komitmen dan penuh kasih sayang dan pekerja keras. Hal inilah yang kiranya membuat Mandira jatuh cinta dan menikah dengannya. Hampir mustahil ada seorang wanita yang mau menikah dengan kondisi pria seprti itu tanpa adanya ‘kekhasan” dalam diri Khan. Sebagian orang bakal mencibir karakter Khan yang angelic tersebut, terlalu dibuat-buat dan kurang rasional bagi masyarakat kebanyakan. Namun disitulah saya rasa pesan dari fim ini, jika seorang yang memiliki kekeruangan seperti Khan bisa mengubah dunia, mengapa kita manusia normal tidak bisa melakukannya??

Selain itu kisah rumah tanggaa Khan juga ditampilkan seolah black &white. Kehidupan mereka sangat bahagia seblaum WTC (white) dan berubah total setelah WTC (black) yang berujung pada kematian putra Mandira, Sameer. Meskipun sebelum intermission, kisah tentang rumah tangga Khan ditampilkan sangat menarik dan mengundang tawa, sayangya ini terlalu memakan durasi yang sangat panjang. Dan pada bagian kedua cerita, tiba –tiba saja rumah tangga Khan berubah menjadi seperti neraka. Terlalu drastic perubahannya. Pengusutan kasus kematian Sameer terlalu aneh dan kurang detail sehingga membuat karakter Madira pada bagian kedua cenderung penuh amarah dan antagonis. Terlalu drastis melihat perubahan seorang karakter dari yang awalnya “penuh ceria dan kebaikan” menjadi sangat pendendam bahkan terhadap suaminya sendiri. Emosi yang berlebihan pada awalnya memang menjadi wajar terlebih lagi nuansa “factor identitas” suaminya dirasa menjadi penyebab penyerangan terhadap putranya. Akan tetapi, seakan menjadi seperti tayangan opera sabun melihat amarah Mandira yang terlalu berlebihan. Dia seolah-olah lupa bagaimana dulu perjuangan Khan merebut hatinya dengan ketulusannya.

Seperti halnya karakter Sissy Spacek dalam In the Bedroom (2001), yang sangat terpengaruh akan kematian putanya sehingga berdampak hebat terhdap rumah tangga dan hubungannya terhadap sang suami, tetapi amarah yang terpendam dalam diri Spacek tidak diucapkan dalam kata-kata. Rumahtangganya mendadak menjadi hening dan dingin. Mungkin ini beda dengan kasus Mandira yang merasa karena nama belakang sang suami yang diturunkan kpada anaknya (khan) lah yang membuat anaknya menjadi sasaran empuk teman-temannya. Lagi-lagi karena investigasi kasus Sameer yang bertele-tele, maka kisah perjaanan Khan bias terus berjalan. Jika dari awal polisi sudah melihat indikasi keterlibatan sang pelaku, maka My Name is Khan tidak akan berlarut-larut seperti ini. Aksi pemukulan Sameer cenderung lebih berlatar belakang emosi ketimbang isu terorisme. Polisi AS tidak menuntaskan kasus yang terjadi di sekolah selama 6 bulan tanpa mendatangkan hasil. Merupakan sebuah keanehan buat saya.

Lanjut pada bagian ketika Khan mulai melakukan perjalanan. Khan memulai perjalannya banyak sekali ditemui berbagai macam kebetulan dan kemudahan atas pemaknaan dari perjalanan Khan itu sendiri. Dengan kata lain terlalu banyak kebetulan dalam perjalanan Khan yang membuat plot ceritanya menjadi agak “klise”. Seprti ,Khan mempunyai tetangga yang meninggal dalam meliput perang di Afganishtan. Mamy Janet, wanita tua kehilangan anakanya dalam perang Irak. Dua bagian ini sangat terkait dengan kondisi pasca 9/11. Dan hampir dalam perjalanan Khan menemui presiden, selalu saja ada orang India dimana-mana selain pada bagian kota Wilhelmina, Georgia. Dan mereka digambarkan sangat menderita setelah tragedy WTC. trus penjaga hotel yang hindu yang tokonya sering dilempari, seorang wartawan yang meliput kasus penahanan Khan juga seorang India yang mempekerjakan hacker seorang india dan reporter seorang Sikh. Nuansa yang saya dapat lebih kearah penderitan muslim India di AS, bukan bagaimana situasi muslim secara global. Mungkin karena ini film India, maka identitas Muslim india lah yang didahulukan.

Alangkah baiknya motivasi Khan melakukan perjalanannya karena memang ketidakadilan yang terjadi pada umat muslim di AS bukan karena tuntutan sang istri. Tampaknya, perjalanan Khan lebih kearah personal dan demi sang anak, Sameer. Seandainya Sameer tidak meninggal dan kondisi muslim AS tetap menderita setelah 9/11, saya yakin Khan tidak akan melakukan perjalanan ini. Sangat disayangkan film yang mengusung tema global dipandang/ditinjau dari sudut pandang personal/individual dan lebih kepada motivasi pribadi.

Terlepas dari penggambaran karakter yang agak ‘cartoonish” dan berbagai mcam kebetulan dan klise, saya tetap memberikan acungan jempol dalam upaya menjadikan isu terorisme diangkat dalam bentuk road movie. Ide ceritanya bagus, tapi masih terkendala ketika dituangkan ke dalam naskah.

Performance : MNIK adalah filmnya SRK. Kendati demikian SRK dan Kajol berhasil membawakan perannya dengan luar biasa melebihi performa naskahnya yang biasa saja. SRK terlihat lebih real ketimbang film-filmnya sebelumnya. Gaya aktingaya mengingatkan saya akan Dustin Hoffman dalam Rain Man (1988). SRK yang dikenal doyan nangis, berhasil tidak mengeluarkan air mata bahkan ketika dalam scene yang sedih sekalipun. Ini merupakan performa terbaik SRK menurut saya karena memang tidak mudah memainkan karakter seperti Rizvan Khan. Kajol tampil luar biasa, dia berhasil mencuri perhatian di setiap scenenya. Terutama ketika scene dia menangisi kematian anaknya. Sangat natural. Seandainya pada paruh kedua pembangunan karakternya lebih ‘normal’ lagi ,saya sangat yakin Kajol bakal lebih baik lagi. Cast lainnya tidak terlalu menonjol.

Technical : Ravi K Chandran sebagai cinematrografer berhasil memberikan warna tersendiri bagi film ini. Setiap scene bisa dikatakan selalu menghasilkan frame-frame yang indah. Pergerakan kameranya juga sangat dinamis sehingga kita seolah-olah sedang menyaksikan film Hollywood. Dari segi editing, MNIK sangat kuat pada paruh pertama, tetapi lumayan kedodoran pada paruh kedua ketika ceritanya mulai mengalami banyak cabang (sub-plot). Music latarnya (original score) juga cukup bergema kendari saya lebih menyukai AR.Rahman menangani jenis film seperti ini. Dalam beberapa scene tampak overhype. Tata artistik juga lumayan menawan, kendati scene hujan badai di Wilhelimina terlihat ‘tacky” tapi saya tetap mengacungi jempol bagi perkembangan art director di India. FYI, scene ini dilakukan di sebuah studio film di Mumbai.

Directing: Karan Johar tampak semakin dewasa dan lebih banyak membuka referensi. MNIK merupakan karyanya yang paling dewasa dan real ketimbang Kuch-kuch Hota Hai, Kabhi Kushi Kabhie Gham, Kabhi Alvida yang pada umumnya lebih dikenal sebagai film-film tearjeaker dan telalu mengesampingkan logika. Kendati MNIK juga sebuah tearjeaker, Johar tampak lebih serius dan matang dalam menangani isu ini. Saya cukup terpukau akan penggarapan film ini pada paruh pertama, tetapi pada paruh kedua saya melihat ada sesuatu yang lepas dalam penggarapannya. Tidak sekuat pada paruh pertama.

Overall, MNIK merupakan sebuah film yang layak tonton bahkan bagi anda yang bukan penggemar film India. Sudah sepantasnya sinema Indonesa mulai belajar ke Bollywood dalam soal penggarapan tema.